Rabu, 30 Desember 2015

Fanfiction Minsul couple againn



My Sleepy Princess

 

Author : Choi Runnisa
Maincast : Choi Minho, Choi Jinri, Kim Dayoung (as Jimin, Minho dan Jinri’s child)
Genre : Romance, sad, family
Length : Oneshoot
Suara sorak sorai dan tepuk tangan membahana di seluruh penjuru aula. Aku adalah salah seorang yang paling bersemangat berdiri dan memberi tepuk tangan keras-keras. Gadis kecil bergaun putih selutut itu melompat-lompat di atas panggung sambil mengacung-acungkan piala ke atas dengan kedua tangannya.
Dan saat acara usai, dia berlari menyongsong ke arahku dan kubalas dengan pelukan erat sekali. 
“Jimin-ah …. Appa bangga padamu sayang….”
“Appa jangan terlalu kencang memelukku, nanti pialaku rusak …” aduhnya dengan suara cempreng.
Aku mengendorkan pelukan. Sambil menyeka air mataku yang membasahi pipi dengan punggung tangan.
“Appa menangis?” tanyanya dengan melebarkan matanya. Dia memang gadis yang mewarisi mata beloku.
“Tidak. Kajja, kita pulang.” Aku bangkit berdiri dan kami berjalan beriringan menuju tempat parkir.
Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, dia terus bersiul-siul ria. Sebelah tanganku digenggamnya sambil diayun-ayunkan, dia juga melompat-lompat kecil sepanjang jalan.
“Hati-hati Jimin … nanti  jatuh …” omelku karena si lincah ini memakai sepatu kaca yang agak tinggi.
“Appa, nanti kalau aku jatuh dan sepatunya lepas. Apakah akan ada pangeran yang menemukannya?”
Ia menghentikan langkahnya membuatku juga berhenti. “Pangeran?”
“Ya, kata eomma, Cinderella sepatunya lepas saat pesta …”
Aku menepuk jidatku sambil tersenyum geli. “Pasti appa yang akan mengambil sepatumu.”
“Kok appa? wae?”  protesnya.
“Bukankah appa yang sedang bersama princess appa sekarang?”
“Andwe … pangeranku pasti tampan. Pasti bukan appa …” dia mempoutkan bibirnya.
“Mwo??? dasar gadis nakal.” Aku mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Dia berteriak-teriak minta diturunkan.
                                                   ***
Dia meletakkan piala besar itu di nakas samping ranjang. lalu megecup pipi tirus itu lama sekali.  Ia menatap wajah tak berdaya milik ibunya dalam diam. Lalu beringsut duduk di pangkuanku.
Ia menatap lekat-lekat saat tanganku meremas lembut jemari ibunya.
“Jinri …” sambutku pada istriku. Hari ini aku mengunjunginya lagi seperti biasanya. namun kali ini lebih terlambat karena aku baru menjenguknya di siang hari, dengan membawa serta Jimin yang ingin memberi hadiah special untuk ibunya. Jarang sekali aku membawa serta dia karena aku pun tahu rumah sakit bukan tempat untuk anak kecil. Namun hari ini aku memenuhi janji untuk putri kecil kami yang sudah satu bulan lebih tidak bertemu dengan ibunya.
“Eomma …” timpal JImin. “Bangun eomma …” tangan kecilnya mengguncang lengan ibunya.
Wanita itu tetap diam. Jimin muram karena ibunya selalu diam.
“eomma suka sekali tidur.” Gerutunya kesal. Aku mengelus rambut anakku yang hitam panjang dengan perasaan teriris. Bagaimana perasaanmu melihat gadis kecil yang polos ini selalu memanggil ibunya yang sudah lama tidak bangun?
“Di sini ada anak kita, sayang … dia merindukanmu ….” Aku mencoba mengeluarkan kalimat bujukan yang tentu saja itu sia-sia. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. kami hanya menunggu keajaiban Tuhan untuk bangunnya peri cantik kami.
“Jinri … di sampingmu, ada piala anakmu … dia menghadiahkannya untukmu. Jimin sudah menepati janjinya. Hari ini dia sengaja ikut datang hanya untuk bertemu dirimu … tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih untuknya? Tidakkah kau ingin memeluknya?”
“Jinri … hari ini dia bernyanyi dan bermain piano dengan sangat merdu dan indah sekali. Lagu yang dibawakannya adalah  ‘twinkle-twinkle little star’ yang selalu kalian nyanyikan. Apakah kau mendengarku, sayang?”
“Jinri … kemarin aku mengukur tinggi anak kita …. Sudah bertambah dua sentimeter hanya dalam waktu satu bulan. Dia paling tinggi di kelasnya … apakah itu berarti aku sudah mengganti peranmu dengan baik dengan memberi gizi yang cukup untuknya? Kau ingat bukan kau orang yang paling rewel dalam memperhatikan perkembangan Jimin …”
“Jinri … maafkan aku. Selama ini aku meremehkan peranmu dalam menjalani tugasmu. Ternyata aku belum sanggup menjadi ayah yang baik untuknya. Bahkan kemarin aku tidak tahu cara membuat kimbap untuk piknik di sekolahnya. Untunglah neneknya bersedia datang ke rumah kita. Dia membuat banyak kimbap untuk Jimin. Aku pun juga membawanya beberapa untuk bekalku di kantor. Tapi …. Saat memakannya. Aku merasa sulit menelannya. Masih enak masakanmu sayang. Aku merindukan olahan tanganmu sendiri…”
“Jinri … berulang kali aku tidak bosan menyebut namamu … bosankah kau mendengarnya? apakah aku terlalu banyak mengoceh? Maafkan aku. Aku tidak akan marah bila nanti kau mencubit lenganku seperti dulu saat kau kesal padaku. Jinri … sejak kau tidur lama sekali …. Aku merasa menjadi manusia yang seratus kali lebih banyak bicara daripada diriku yang dulu, karena kau membuatku jengkel dengan diammu…. Nanti kalau kau bangun … kuharap rumah kita akan penuh dengan tawa lagi. anak kita juga mewarisi sifat bawelmu ….”
“Jinri …. Aku selalu memohon pada Tuhan untuk memberi kita kesempatan kedua agar dapat bersama-sama lagi seperti dulu. Aku sungguh mencintaimu …”
Tak terasa air mataku menetes saat mengucapkan kalimat yang terakhir itu. hatiku seperti diremas-remas kala mengingat kemungkinan kecil dia tetap bertahan untukku.
Cara dia tertawa, tersenyum, marah, omelannya, semuanya kini begitu kurindukan. Belaian lembutnya adalah penawar mujarab untuk mengobati gundah hatiku. Suara merdunya dan denting pianonya di sudut rumah kami, adalah melodi yang tidak bisa kuhapus dalam memoriku.
Segala kebersamaan terindah yang kami rangkai sejak sebelum menikah sampai sekarang, berputar dalam benakku seperti slide film yang diputar berulang-ulang. Terus menerus hingga memukul perasaanku. Membuat penyesalanku semakin datang bergulung-gulung bagai debur ombak yang tidak bisa berhenti.
Tidak jarang aku merasa kesal karena dia terlalu memperhatikan anak kami daripada aku. Tidak jarang aku mengacuhkannya saat dia minta tolong sesuatu dan aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Tidak jarang pula aku tidak membalas pesan-pesannya untuk sekedar memperhatikan diriku seperti makan dan istirahat.
Kini saat rumah selalu dalam keadaan kosong, aku menyadari bahwa dialah malaikat yang dikirimkan Tuhan dalam hidupku.
Dia mengalami cedera otak berat karena kecelakaan bus saat mengikuti darmawisata sekolah tempatnya selama ini mengajar. Berturut-turut para korban lain yang sempat mengalami luka berat masuk ICU sudah dipanggil oleh-Nya. Hanya Jinri yang masih bertahan bahkan hingga satu bulan lebih.
Aku masih menunggunya. Aku tidak peduli pada kemungkinan kecil itu. sekecil apapun kemungkinan ia akan bangun lagi, aku tetap berharap dia hadir lagi pada kehidupan kami. tak bisa kubayangkan JImin akan kehilangan ibunya di usianya yang masih sangat kecil. Anakku belum mengerti apa-apa.
Aku tak akan meminta apapun pada Tuhan dalam doa-doaku selain agar malaikat kami kembali. Aku menerima apapun keadaan Jinri. Meskipun pengorbananku nantinya tidak sebanding dengan kesalahan yang telah kulalukan di masa lalu. namun setidaknya aku akan menerima Jinri apapun keadaannya nanti. Sekali lagi asalkan malaikat kami kembali.
                                                   ***
 100 hari koma …
Gadis kecilku merengek lagi minta ikut menjenguk ibunya. Namun ada yang aneh dengan sikapnya. Dia membawa sebuah buku dongeng bergambar yang dibelikan neneknya. Katanya, buku itu adalah petunjuk untuk menyembuhkan ibunya.
Awalnya aku geli dengan sikap konyol Jimin. Gadis kecilku yang masih TK itu selalu saja membuat ulah yang aneh-aneh. kata orang rumah, sudah sejak seminggu lalu dia membaca dongeng itu keras-keras sebelum tidur, dengan meminta siapapun orang yang ada di rumah untuk menyimak bacaannya. Sayang sekali aku tidak bisa ada di sampingnya membaca cerita karena aku baru saja pulang dari luar negeri untuk sebuah proyek kantorku yang tidak bisa ditangguhkan.
Tapi di hari tidur ke seratus ibunya ini aku sudah berjanji untuk menemaninya, mendengar ia bercerita untuk ibunya. Kata eomma, dia sudah sangat lancar membaca.
Dengan antusias kami duduk di samping ranjang Jinri.
“Eoh, appa. pakaikan ini di rambut eomma.” pintanya sambil menyodorkan mahkota kecil dari plastic padaku. Aku hanya menurut padanya. tubuhnya masih terlalu pendek untuk meraih kepala ibunya. Aku hanya meletakkan mahkota itu di atas kepala Jinri, karena kepalanya dibebat perban.
“Eomma, hari ini eomma menjadi tuan putri dan appa menjadi pangerannya…. ” Serunya bersemangat. “Eomma, appa …. dengarkan Jimin, ne?”
“dahulu kala, hiduplah raja dan raja dan ratu yang sangat baik hati, setelah bertahun-tahun menanti, akhirnya ratu melahirkan seorang bayi perempuan. Kelahiran bayi itu dirayakan. Enam peri baik hati datang pada perayaan istana. Tetapi raja lupa mengundang seorang peri ke tujuh yang sangat jahat dan kejam. Lima peri baik hati masing-masing memberi hadiah untuk sang bayi. Ketika peri ke enam hendak mengucapkan permintaannya untuk putri, tiba-tiba peri yang jahat muncul dengan wajah marah. “Sang putri akan mati,” kata peri jahat. “jari putri akan tertusuk jarum pintal”. “tidak”, kata peri ke enam. “Aku beri hadiah agar putri tidak mati, melainkan tidur selama seratus tahun”. Sang ratu menangis dan raja berteriak marah. “Semua mesin pintal di kerajaan ini harus dibakar dan dimusnahkan,” kata raja. “maka jari putriku tidak akan pernah tertusuk oleh jarum mesin pintal”. Waktu berlalu, sang putri tumbuh dewasa di istana, saat umurnya tujuh belas tahun, sang putri merayakan ulang tahunnya yang amat meriah. Tapi lagi-lagi, mereka lupa mengundang peri jahat. Hari berikutnya, sang putri menemukan tangga rahasia di dalam istana. Tangga itu membawanya ke sebuah ruangan yang tersembunyi. Di dalam ruangan itu, ada seorang nenek duduk di depan mesin pintal. Sang putri tidak tahu nenek itu adalah peri jahat yang sedang menyamar. Putri menyapa nenek itu, lalu nenek itu mengajaknya untuk menunjukkan mesin pintalnya. Nenek alias peri jahat menusukkan jarum ke jari sang putri. Dan seketika sang putri tertidur. Semua penghuni istana pun tertidur. Keenam peri menjaga istana itu dengan baik hingga seratus tahun lamanya. Tidak ada yang bergerak dalam istana itu. hingga sekeliling istana ditumbuhi hutan lebat. Hingga suatu hari, datanglah pangeran muda. Ia bertanya pada seorang kakek tua tentang istana itu. sang pangeran pun melanjutkan perjalanan ke istana. Pepohonan membuka seakan menuntun sang pangeran masuk ke dalam istana. Semuanya hening. Ia berjalan melewati tangga dan menemukan putri yang tertidur. Sang putri Nampak begitu jelita. Sang pangeran kemudian menciumnya dengan lembut. Putri pun perlahan membuka matanya dan tersenyum.” Akhirnya, seorang pangeran tampan datang menyelamatkanku,” katanya. Semua yang ada di istana ikut bangun. Raja pun mengadakan pesta, putri dan pangeran akhirnya menikah dan bahagia selamanyaa…”
Aku memberi tepukan ringan dan mencium pipi tembam putriku dengan rasa haru dan bangga. Namun dia malah cemberut dan mendorongku. “Seharusnya pangeran mencium tuan putrii …” protesnya. “Appa … appa harus mencium eomma supaya eomma cepat bangun …” rengeknya lagi.
Aku tertegun beberapa saat mendengar ucapan putriku. “Appa palliwaa… pallii …” dia terus mendesakku.
Kudekatkan wajahku ke wajah pucat Jinri. Dia terlihat damai dalam tidurnya. “Maafkan aku sayang, aku mengganggu tidurmu. Tapi kali ini kau harus bangun demi kami. Kau harus bangun.” Bisikku dalam hati. Entah mengapa kali ini tiba-tiba aku begitu percaya dengan dongeng yang dibawakan Jimin.
Ku tempelkan bibirku di dahinya. Kukecup cukup lama sambil berlinangan air mata. Aku memejamkan mataku membayangkan ciumanku di dahinya saat menikah dulu. Aku tidak mungkin mencium bibirnya sekarang karena bibir dan hidungnya tertutup alat bantu pernafasan. Kecupan di dahi sudah mewakili seluruh perasaanku padanya.
Tiba-tiba Jimin berteriak hingga membuyarkan lamunanku. “Appa …eomma menangis … eomma menangis …”
Sontak jantungku seperti meloncat. Rasa lega, senang, haru, bercampur menjadi satu. Kami melihat sendiri betapa air mata Jinri mengalir dari kedua ujung kelopak matanya.
Aku ikut menangis bahagia sambil memeluknya. Lalu mengecup dahinya sekali lagi.
Jimin dengan tingkahnya yang lugu ikut meneteskan air mata tersedu-sedu, sambil menghapus air mata ibunya dengan tissue. “Eomma …” ucapnya lirih.
Hanya sekejap kami menangis haru, tiba-tiba alat pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring dengan angka dan berbagai lambang di dalamnya berkedip-kedip. Seketika aku merasa panic dan melihat napas Jinri yang sudah bersuara seperti pompa ban manual itu.
Mataku langsung terasa menggelap. Beberapa orang dokter dan perawat segera berhambur datang dan menyuruh kami keluar. salah seorang dokter berucap “kode blue …” aku tak mengerti apa arti kata-kata itu. namun yang jelas, aku sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi setelah itu. Jimin berteriak histeris, namun aku dengan susah payah berhasil membopongnya keluar.
Seketika tubuhku lemas. Di dalam sana, suasana tegang dan panik. Tubuh kami melorot ke lantai keramik rumah sakit yang dingin. Jimin memelukku sambil menangis, namun aku tidak sanggup membalas pelukannya karena tubuhku tak memiliki daya apa-apa lagi.
                                                               ***
Dua belas tahun kemudian … musim dingin di Seoul ….
            “Presdir Choi, ada kiriman untuk anda.” Kata sekretarisku. Aku menyuruhnya meletakkan box paket kiriman kilat itu di meja tamu.
Beberapa menit kemudian, aku meregangkan tubuhku yang sudah terasa pegal-pegal. Beberapa tumpuk file sudah kutanda-tangani dan kini saatnya aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mungkin inilah efek dari tubuh yang sudah mulai senja. Umurku sudah menginjak 40-an. Dan apalagi Jimin putriku sudah meninggalkanku selama satu semester ini untuk berkuliah  di luar negeri.
Kubuka paketan itu, sebuah kartu pos bergambar patung liberty menyembul terlebih dulu.
“Appa, sudah sampaikah kirimannya padamu? Mianhae, appa. mungkin pemberianku tidak mahal. Lagipula ini kan juga paket pertama yang kukirimkan padamu? Sayang sekali bukan kalau aku langsung mengirim kado mahal tapi tidak sampai? LOL xD. Sekarang musim dingin, mungkin ini hanya syal sederhana. tapi di sana sudah ada seribu kehangatan dariku untuk appa. Saengil Chukka hamnida appa …. Oh ya…. Tunggu aku appa. aku akan pulang saat liburan musim panas tiba.”
Aku tersenyum haru. Kupungut Syal itu lalu kukalungkan di leherku. Tetes demi tetes salju telah terlihat turun di luar jendela kantor. Ini salju pertamaku tanpa kehadiran Jimin. Dulu saat Jimin masih ada di sisiku, hidupku tak senelangsa ini.
Hidupku benar-benar sepi. Apalagi saat aku sendirian seperti ini. Rasa rindu benar-benar menyengat hatiku. Aku masih harus menunggu kepulangan putriku beberapa bulan lagi saat musim panas tiba. ahh masih lama sekali.
Bosan menatap rintik-rintik salju di pinggir jendela kantor, aku menyalakan laptop dan menonton video rekaman kami bertiga dulu. Kehangatan yang masih utuh saat ada ‘dia’. Saat dia tertawa sambil menekan tuts-tuts piano dan membimbing Jimin bernyanyi. Saat aku dengan serunya merekam detik demi detik momen yang benar-benar penuh keceriaan dan tawa. Lalu saat dia perform dalam sebuah pagelaran musiknya. Dengan gaun putih selututnya yang anggun, dia menyihir seluruh ribuan pasang mata dan telinga yang mendengar permainannya. Video terakhir yang tak sanggup kutonton, saat dia meniup lilin ulang tahunnya yang terakhir, dua belas tahun yang lalu … matanya yang berkaca-kaca di bawah temaram lampu taman. Dan juga aku dengan wajah konyol mencolek krim kue tart ke pipinya. Kami berdua duduk di bawah lampu taman, di tengah malam  tanpa ada siapa-siapa termasuk Jimin kami karena dia sudah tertidur. Tak kusangka itulah rekaman romantisme terakhir kami. Satu minggu sebelum kecelakaan itu membuatnya menjadi putri tidur untuk selamanya.
            Beberapa bulan kemudian, musim panas di Seoul ….
            “Appa …” teriaknya. Dia meninggalkan kopernya dan berlari ke arahku.
Tubuhku mematung. Gadis tinggi semampai dan berpipi tirus itu berlari ke arahku. Jantungku berdetak lebih kencang. Dia benar-benar duplikat Jinri. Caranya berlari, memelukku, kulit putihnya, wajahnya, rambutnya, hanya mata belo-nya lah yang menyadarkanku bahwa sekarang ini dia adalah putriku.
            “Apa kabar…, nak??” tanyaku tersendat. Air mataku menetes karena buncahan rasa rindu. Aku mencium keningnya lama.
            Kami pun pulang meninggalkan area terminal kedatangan bandara Incheon sambil bergandengan tangan.
            Jimin sudah berjanji akan menyempatkan pulang walau hanya satu tahun sekali. Hidup kami terus berlanjut walau tanpa kehadiran ‘dia’. Walau dongeng putri tidur tidak menjadi kenyataan dalam kehidupan kami, setidaknya aku dan putriku masih mencintai ‘dia’. Hingga aku sampai hari ini pun tak pernah bisa menemukan penggantinya. Hidup ini hanya sementara. Tuhan yang memiliki rencana indah di luar kuasa kita. Walau 'dia’ sudah tiada lagi di sisi kami, namun cintanya yang begitu indah masih menjadi hal yang tak bisa terganti.
~THE END~