Minggu, 10 Agustus 2014

my first fanfiction



BE MINE!
Author: Khoirun Nisa’ (Choir Ni Sa)
Main Cast: Choi Min Ho, Choi Sully.
Genre: Sad, Romance, Medical.
 “Oppaa…”, gadis kecil menghentikan pekerjaannya. “origamiku sudah selesai.”
“Bagaimana caranya Sully? Kenapa kau cepat sekali?”
“Kemarilah. Kuajari oppa” lalu dengan lincah gadis kecil itu mengajari anak laki-laki yang lebih tua, yang selalu ia panggil Oppa sejak kecil.
Beberapa saat kemudian, ibu Minho datang memintanya untuk segera berpamitan.
“Omma, aku masih ingin sekali bermain dengan Sully. Kenapa harus pulang sekarang?”
“Sayang, kita harus segera berkemas, appa sudah menunggu kita.. nhe?”
“Sully, Kapan-kapan kita bermain lagi, yach? Bye…”, Minho dan ommanya berpamitan.
Sully jadi cemberut karena sahabat kecilnya itu harus pergi, padahal ia masih ingin bermain dengan Minho oppa-nya.
Minho terus berlalu menjauhi rumah besar yang ditinggali keluarga Sully. Ia tak berhenti menatapnya. Seakan-akan esok hari tak akan ada lagi hari di mana ia bisa bermain lagi dengan Sully di rumah itu.
***
Pagi itu, Sully sarapan bersama kedua orangtuanya seperti biasa. Tapi, tidak biasanya ayah dan ibunya sudah berpakaian  rapi selain karena mereka berpakaian untuk ke tempat kerja.
“Eomma, kita mau ke mana? Kok sudah menyuruhku buru-buru .” Tanya Sully penasaran usai menyelesaikan sarapannya.
“Kita akan mengantar keluarga Minho ke bandara, ayah dan ibunya kan sahabat dekat keluarga kita, mereka akan pindah ke Amerika sayang.”
“Mwoo? Kenapa oppa tak pernah memberitahuku omma….” Protes Sully tak percaya.
“Sudah Sully, ayo nanti kita terlambat.” Appa menghentikan protes Sully.
***
Bandara Incheon, 2001
“Bibi… jangan pergi…!!!!”
“Sayang,..” omma Minho mengelus rambut panjang Sully yang dikepang dua itu dengan lembut.
“Kami juga sayang sekali padamu, kamu sudah bibi anggap sebagai anak perempuan bibi sendiri. Tapi harus bagaimana? Bibi dan Minho harus pindah ke California, karena paman pindah kerja ke sana. Kalau ada waktu, mainlah ke rumah kami, sayang. Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian.”
Minho kecil mengusap air matanya. “Sully, ambillah topi ini..” Minho menyodorkan topi hitam yang dipakainya.
“Ini juga untukmu, oppaa..” Sully memberikan gelang plastic miliknya, dan memasangkannya di pergelangan Minho.
“Berjanjilah, kita akan bertemu lagi,” dua sahabat kecil itu saling mengkaitkan kelingking kecil mereka.
Beberapa saat kemudian, pesawat itu telah lepas landas meninggalkan bandara.
***
Bandara Incheon, 2014.
Namja bermata kodok itu sudah sampai ke Korea dengan lega.
Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana jika ia bertemu Sully nanti. Ia kini sudah mendapat gelar dokter spesialisnya lebih cepat. Tak sabar , bermaksud untuk segera bertemu Sully, sahabat kecilnya, sekaligus adik kelasnya dulu waktu SD. Sudah lama ia hilang kontak dengan Sully saat ia akan menempuh study kedokteran dulu. Waktu itu ia ingin konsentrasi dengan sekolahnya. Sedang sully terakhir kali mengiriminya foto berseragam SMU melalui e-mail. Hanya itu kini bekal Minho mencari yeonja yang cantik itu. Ia tak tahu kini kabarnya, keluarganya, bagaimana wajahnya, ataupun menjadi apa ia sekarang. Sully bohong, saat itu ia berjanji akan mengunjungi Minho. Tapi tiba-tiba setelah terakhir kali kontak, ia sudah tiada kabarnya lagi.
Minho mencari-cari temannya yang sudah berjanji menjemputnya. Papan bertuliskan Choi Minho itupun akhirnya ketemu. Laki-laki putih seusianya itu melambai-lambaikan tangan sekaligus menghampirinya.
“Aigooo… bagaimana kabarmu Dokter Choi… sudah sangat lama kita tak bertemu. mereka saling berpelukan.
“Kajja, ayo kita pulang. Ibuku sudah menunggumu, kawan.”
Mobil terus melaju. Kawan Minho itu tak berhenti bercerita tentang kehidupannya, hingga Minho bosan mendengarnya, tapi ia ingin tetap menjadi pendengar yang baik.
“Hei, apakah kau ingat dengan Sully, adik kelas kita waktu SD itu?”
Agak lama laki-laki itu mengingat gadis yang disebut Minho. “oh, geure.. gadis cengeng yang rambutnya selalu dikepang dua itu?? bahkan aku sempat satu SMU dengannya. Waah.. dia menjadi angsa yang sangat dikagumi anak laki-laki di sekolahku. Selain cerdas, dia juga sempat menjadi model, lho. Tapi, ia lalu lebih memilih konsen sekolahnya. Kasihan dia…”
“Kasihan bagaimana??? Terus bagaimana kabarnya sekarang?”
“Itulah, sejak lulus SMU, aku sudah tak pernah lagi mendengar kabarnya. Tapi yang kudengar terakhir kali. Perusahaan appanya bangkrut karena sang direktur bunuh diri…”
“Mwo???”  Minho melongo tak percaya. ‘mungkinkah itu menjadi penyebab ia juga putus kontak dan tak jadi mengunjungiku di Amerika?’
Keesokan harinya. Minho yang masih hafal jalan menuju rumah Sully yang dahulu itu, terkecoh. Penghuninya kini sudah berganti. Bukan keluarga Sully lagi. Ia menjadi khawatir sekaligus bingung, bagaimana nasib yeonja yang selalu ada dalam mimpinya selama ini itu? Apakah ia menjadi gelandangan sekarang? Ah, tidak. Meskipun perusahaan appanya bangkrut, tapi Omma Sully dulu  masih bekerja sebagai kepala perawat di sebuah rumah sakit.
Minho segera pergi ke rumah sakit tempat dulu omma Sully bekerja, tapi juga nihil. Kata salah  seorang perawat, ia sudah lama pindah. Ke sebuah rumah sakit kecil di sebuah desa. Ia bekerja sebagai sukarelawan medis di sana.
Pikiran Minho menjadi makin kacau. Hari ini ia lelah. Ia juga masih mengurus pekerjaan barunya di sini, dan harus mencari keberadaan keluarga Sully. Ia akan mencarinya lagi esok hari.
***
Di rumah sakit swasta ternama di Korea inilah, Minho memulai pekerjaan barunya sebagai  dokter spesialis anak. Siang itu, ia bermaksud berjalan-jalan di sekitar rumah sakit setelah lelah habis melakukan operasi dan menangani anak kecil yang baru kecelakaan di UGD.
Suasana mengejutkan kembali lagi. Ambulans tiba dengan membawa pasien anak kecil. Sesosok gadis yang kelihatannya tomboy dan  bertopi yang mendampingi anak  di ambulans itu terus berteriak-teriak.
“tolong, dia perempuan bernama Shin Jung Ah, usia delapan tahun, pasien gagal nafas. Sepertinya dia terserang tension pneumotoraks dengan BO. Kami telah melakukan intubasi, cepat. Dia butuh novalung dan operasi pneomotoraks…”, gadis bertopi itu berbicara cepat.
Dokter Minho dan dokter jaga lainnya langsung cepat tanggap memindahkan gadis kecil itu ke bangsal dan melakukan prosedur  alur kerja gawat darurat. Gadis bertopi itu was-was. “apakah kau walinya?” salah seorang dokter jaga bertanya.
“ya, tadinya dia adalah pasien kami. Tiba-tiba tadi pingsan setelah berusaha kabur dari klinik. Kami berusaha menanganinya, tapi karena RS kami tak punya novalung, kami membawanya ke sini..”. gadis itu menceritakan panjang lebar.
oohh,, apakah ia seorang dokter? Gadis sipit yang bergaya berandalan itu sungguh mengagumkan. Gerak-geriknya seperti sudah terbiasa menangani pasien.’ batin Minho sekaligus kagum ketika sekilas mendengarnya. Tapi lalu dia sibuk menangani gadis kecil itu.
“oh, siapa namamu? Kami butuh persetujuan untuk segera melakukan tindakan operasi…”. Dokter jaga mencatat nama gadis itu. Minho sudah tak menghiraukannya lagi.
Beberapa saat kemudian, operasi dilakukan. Gadis bertopi itu duduk di kursi tunggu sendirian. Sekilas, dilihatnya jam tangan di pergelangannya. Sudah satu jam. Tapi operasi itu belum selesai. Ia kehausan, lalu memasukkan koin di mesin penyedia minuman kaleng. Lalu memungut minuman kaleng itu. Meneguk sekaligus sampai habis. Benar-benar gadis tomboy.
Dari mukanya, terlihat ia gadis yang tak pernah memperhatikan perawatan wajah. Dan tingkah lakunya tak menunjukkan sedikitpun keanggunan. Minho yang melihatnya usai keluar dari ruang operasi itu hanya geleng-geleng kepala.
Gadis itu tak sengaja menoleh ke arah pintu  operasi. Dilihatnya dokter tampan itu sudah menatapnya seraya mengerutkan dahi, heran.
“Hei, gadis. Adikmu sudah selesai dioperasi. Kau sekarang bisa melihatnya di ruang perawatan.”
“Kamsahamnida, dokter. Kamsahamnida. Telah menyelamatkan Jung Ah-ku.” Ia membungkuk-bungkukkan badannya, lalu ngeloyor pergi sambil berlari melesat membelah kelengangan koridor rumah sakit.
***
Esok harinya, Minho yang semalaman dibuat tak bisa tidur oleh bayangan gadis itu, kini melihatnya lagi di rumah sakit. Di ruang perawatan gadis kecil Jung Ah.
Tak mengerti, hatinya sungguh berdebar-debar kencang sekali. Ia gugup di depan pintu. Apalagi sekarang gadis itu menyadari kehadirannya. Menatapnya sekilas, lalu kembali tersenyum pada adiknya, Jung Ah yang juga berteriak memanggil namja itu. “Dokter, kemarilah.”
Dengan malu ia menyapa mereka berdua. “annyyeoong Jung Ah.. bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah mendingan?” sapa Minho seraya bergaya membetulkan aliran infuse.
Gadis itu terus saja menatapnya. “oh, Dokter… Minho??” ia memberanikan diri bertanya sambil terdengar suaranya yang gemetar. Minho terkejut bukan main. Kini ia tak bisa melepas pandangannya ke arah lain, hanya pada gadis itu. Gadis yang sudah membuatnya tak bisa tidur semalaman. Membuat jiwanya merekah setelah sekian lama perasaan seperti itu terpendam dalam pusaran waktu. Ya, ia merasakan perasaan itu kembali.
“Oh, ada apa?” ia menjawab dengan agak gagap.
“Anniyo, dokter. Terima kasih dokter sudah mengoperasi Jung Ahku. Jeongmal Gomawo…” gadis itu salah tingkah juga.
‘otteokee… kenapa dia tak ingat padaku? Ataukah dia pura-pura lupa? Ah, sungguh menyebalkan memendam perasaan ini…’ batin gadis itu sungguh kesal dengan perasaannya sendiri.
“Sama-sama, kalau butuh sesuatu, panggil saja saya. Nhe?saya dokter yang menanganinya.”
Kakak beradik itu menganggukkan kepala sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih. Minho pun pergi.
***
Di atas ranjang, Minho yang sudah memakai pijama tidur tetap tak bisa memejamkan matanya. Merutuk dirinya sendiri. Kenapa tadi siang dia sangat gugup? Padahal gadis itu sudah berusaha memulai pembicaraan, bukankah setidaknya ia bisa membalasnya juga dengan ramah seperti yang biasa ia lakukan selama ini terhadap pasien? Aah. Ia masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dan juga, bukankah tujuannya kembali ke Korea adalah untuk mencari Sully yang selama ini ia rindukan? Kenapa yang ada justru jatuh hati pada gadis lain?
“Mwo???” ia terkejut oleh pikirannya sendiri. Ia mulai memejamkan mata. Meraba-raba lagi ingatannya terhadap wajah gadis itu. Gadis kumal itu. tidak…!!!!
Ia langsung berlari mengambil foto Sully saat SMU yang ia taruh di laci. Benar. Ia cocokkan dengan bayangan tadi. Ia segera menyambar HP dan mengirim sms pada salah satu rekannya di RS,  bertanya alamat dari rumah sakit mana pasien Jung Ah-nya dirujuk.
***
Minggu pagi itu minho libur. Ia sudah sampai di sebuah RS kecil yang tak begitu ramai di sebuah desa di pinggiran kota Seoul. Ia bertanya sana-sini pada orang yang bersimpangan dengannya. Di mana ruang dokter cantik gadis kumal itu.
“Oohh,, maaf anak muda. Dokter Sully kalau sedang tidak sibuk begini ia bekerja sebagai pengantar gallon. Tapi sore nanti dia juga sudah pulang. “ ucap nenek yang berpakaian sebagai pasien itu.
Minho kaget setengah mati, kaget mendengar bahwa itu benar Sully seperti dugaannya, sekaligus ia bekerja sebagai pengantar air gallon di hari libur. Ia masih tak percaya bahwa ia adalah  gadis itu.
Ia masih ingat satu hal. “Maaf nenek. Apakah di sini juga ada perawat senior bernama Soo Young?”
Tiba-tiba, satu suara menyahut dari arah sampingnya. “oohh, itu saya sendiri. Maaf, anak muda ini siapa nek? Silakan kembali ke ruanganmu nenek. Kau harus istirahat. Silahkan kau tunggu aku di ruang perawat sebelah sana. “ wanita paruh baya itu menunjukkan sebuah ruang di ujung  lorong.
Minho segera menuruti perintah wanita yang ia yakini ibunya Sully itu. Tak lama kemudian, wanita itu datang dengan dua gelas kopi di tangannya, menyodorkan salah satunya pada Minho, namja tamunya yang sedang diintip banyak perempuan di luar ruang perawat itu.
Sesaat, Minho membungkukkan badan mengucapkan terima kasih dengan sopan. Kemudian ia memperkenalkan dirinya secara langsung. Seketika itu juga ibu Soo young yang sudah belasan tahun tak bertemu dengannya itu sangat terkejut. Segera ia merangkul putra sahabat lamanya itu.
“Bagaimana kabar ayah dan ibumu, Minho? Dan sekarang  apa pekerjaanmu?” kini perbincangan mereka menjadi lebih akrab.
Minho kemudian menceritakan tentang orang tuanya di Amerika yang juga bekerja di bidang medis. Sedangkan ia memberitahu bahwa ia sendiri sekarang sudah bekerja sebagai dokter di RS di Korea dan mulai mencari tempat tinggal sendiri.
“oh, ibu. Ngomong-ngomong. Bagaimana kabar Sully sekarang? Sejak saya akan masuk kedokteran, saya putus kontak dengan Sully.” Minho tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya sedari tadi.
Agak lama ibu Sully tak menjawab. Air matanya menetes satu persatu. Minho segera menyodorkan sapu tangannya.
“Cerita tentang Sully mungkin takkan terbayangkan olehmu, nak. Saat Sully kelas dua SMU, suamiku.. ditemukan meninggal di meja kantornya, diduga karena bunuh diri. Ditambah lagi ternyata perusahaan mengalami kerugian dan menanggung hutang yang sangat banyak, akhirnya dengan pasrah rumah dan seluruh asset kekayaan keluarga kami disita demi menanggung hutang dan gaji pegawai. Saya waktu itu sungguh frustasi, Minho. Apalagi Sully masih sekolah, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman saya di sini, sedang Sully mencari rumah kost di kota, belajar keras dan kerja paruh waktu  sebisanya. Kehidupan yang ia alami begitu keras, nak. Tapi ia tak mengenal kata putus asa. Katanya, ia ingin menjadi dokter dan menyusulmu di Amerika sesuai janjinya. Tapi, sampai sekarang, justru ia sampai lupa dengan mimpinya itu, ia lebih memilih setelah lulus kedokteran bekerja sebagai dokter umum membantu para dokter senior di sini. Ia memilih menghidupi dirinya sendiri mencari uang dengan menemani sepupunya sebagai pengantar air setiap kali ia ada waktu senggang seperti ini…”
Mata minho tak berkedip sama sekali. Ia menunduk membayangkan garis hidup Sully yang begitu sulit ia sendiri bayangkan. Yeonja yang ia sadari sangat ia cintai, mengubur mimpinya sendiri untuk bertemu dengannya.
Minho tak mau terus larut dalam duka. Ia kemudian menatap Soo Young lekat-lekat.
“Bolehkah aku memanggilmu Omma, bu?”
Soo young menunduk pelan, tersenyum seraya mengusap air matanya. Minho merangkul wanita paruh baya itu. “Bukankah sejak kecil dahulu saya sering sekali main dengan Sully di rumahmu? Dan keluarga kita sangat dekat, bu? Keluargamu sejak dulu banyak sekali membantu  kami. Jangan menangis, bu..  anggap saja saya anak ibu… “
***
Hari telah merangkak menuju senja. Truk gallon itu berhenti di depan rumah.  Lalu turun sosok gadis lincah dan kumal itu lalu melambai-lambaikan tangan menatap truk gallon pengantarnya yang kemudian berlalu pergi.
Gadis kumal itu terkejut. Di kamarnya, sesosok namja bermata kodok sudah duduk di tepi ranjangnya.
“Benar-benar. Apa kau baru membantu truk pengangkut sampah? Badanmu sungguh bau.. baru kali ini aku melihat gadis sekumal dirimu…”, namja itu menggerutu.
Gadis yang bernama Sully itu masih melongo tak percaya. Lalu dengan tak sabar menyepak lutut namja bermata kodok itu, gesit.
“yha! Jangan berani-berani kau, ya? Dokter Minho? Punya hak apa kau mengata-ngataiku dan masuk kamarku sembarangan? Dasar sombong. Keluar!!!”
“ommaaa…. Usir pria ini keluar. Tak sopan sekali.”  Ibu yang sedang menyiapkan makan malam itu hanya tersenyum geli melihat anak gadisnya.
“Kau tak ingat? Dia Choi Minho…. Yang dulu kau panggil Oppa….” Omma  bermaksud mengingatkannya.
“tak usah diceritakan lagi. Dia sungguh sombong di RS. Aku sudah bertemu dia waktu mengantar Jung Ah kemarin.”  Sully langsung ngeloyor pergi ke kamar mandi.
Kini Ommanya malah melongo, sedangkan minho hanya tertawa sambil meringis kesakitan karena sepakan maut di dengkulnya tadi.
***
Usai makan malam dengan saling diam-diaman, kini ibu mengisyaratkan Minho untuk mendekati Sully. Gadis yang kini duduk di ayunan seraya menatap bintang gemintang yang bertebaran di langit.Minho menggerakkan ayunan Sully. Meski sedikit terkejut,tapi Sully juga tak mencegah Minho menghentikannya. Ia mengenang masa kecil itu, bersama Minho yang waktu kecil juga sering mengayun-ayunkannya seperti ini.
“gomawooo….  Sudah datang kemari. “Sully tersenyum pelan.
“Apa kau tak rindu padaku?” kini Minho beralih di depannya, dan mendorong ayunannya lebih kencang.
Air mata sully tak terbendung lagi. Rambutnya perlahan tertiup angin malam. Wush… wush… minho menghentikan ayunan. Kecantikan itu kembali lagi. Lalu memeluk Sully, ia menumpahkan kerinduannya.
“oppaaa….. jeongmal bogoshippo…” sully berbisik di telinga minho.
****
Sejak saat itu, minho kerap mengajak Sully bertemu. Walaupun Jung Ah sudah tidak dirawat di RS itupun, terkadang Sully mengantar gallon ke RS itu dan bertemu Minho.
Hingga suatu siang, Sully sungguh kecewa. Namja yang ia cari tak ia temukan. Nomor hape-nya juga tak aktif. Malahan ia mendengar dari  gossip perawat yang lewat, bahwa dokter tampan idaman mereka itu sedang cuti mempersiapkan pernikahannya. Aaarrrgghhh,,, ia sungguh putus asa. Padahal ia sudah berdandan ala gadis muda lainnya, sangat feminine. Tak seperti hari-hari biasanya. Ia ingin hari itu mengagetkan Minho. Tapi sayang ia sungguh merasa kecewa. Akhirnya dengan hati dongkol ia mengemudikan balik truk galonnya.
Sendirian, uraian air mata tak mampu membendung rasa kecewanya. Dua botol alcohol itu tak membuatnya mempan mabuk. Ia sungguh frustasi. Lalu melanjutkan memilih pulang kembali ke rumah.
***
Di sebuah taman, gadis kumal bertopi itu menunggu dengan gelisah sekaligus kesal.
“Apa dia hanya mau memberiku  harapan palsu lagi?” ia kembali mengecek SMS dari Minho.
From: Minho-Oppa
“Mari kita bertemu di taman biasanya jam 9 pagi besok. 
“Aaahh, sebaiknya aku pulang saja daripada aku kecewa seperti seminggu yang lalu. “ ia bermaksud berbalik. Tapi namja yang membuat impiannya hancur itu malah sudah muncul di depannya.
“Ayo ikut aku.” Minho menggeret lengan Sully.
“Tapi bagaimana dengan mobil galonku?”. Sully menatap mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
“don’t worry. Chagiy. Biar aku yang menanganinya.” Sepupunya sudah muncul dengan merebut kunci mobil di tangan Sully. “pergilah… urus dia dengan baik, Oppa.” Sepupunya genit, sambil mendorong mereka pergi. Sully hanya bingung sendiri. Sepertinya,Minho sudah bersekongkol dengan sepupunya. ‘Dasar, membuatku penasaran saja.’ Batin Sully.
Sepenjang perjalanan, rasa penasaran itu hadir dalam hati Sully. Mau dibawa ke mana ia? Mungkinkah minho ingin memberinya undangan pernikahannya? Atau jangan-jangan malah ia ingin mengenalkan calon istrinya? Bagaimana kalau semua itu terjadi? Bagaimana nanti perasaannya?
Ia hanya memendam berbagai pertanyaan itu dalam hatinya sendiri. Sambil menatap pemandangan jalanan di luar kaca mobilnya. Mereka saling diam, Minho dari tadi juga sangat cuek.
“Kenapa Oppa tak memberitahu kabar itu? Apa aku bagimu tidak penting?”, Sully mencoba memecah keheningan.
“Buat apa kuberi tahu? Bukankah tanpa kuberitahu kau sendiri juga malah sudah tahu?”, Minho cuek sambil konsen menyetir. Membuat Sully serasa ingin meloncat begitu saja dari dalam mobil.
Tiba di sebuah butik, Minho mempersilakan pegawai membawa Sully ke belakang.
“Yha! lakukan seperti apa yang aku perintah tadi. Buat itik jelek ini menjadi angsa yang cantik. Nhe?”
Sekali lagi Sully bingung bukan kepalang. Ternyata orang-orang disitu segera memake-over dirinya habis-habisan. Dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Dengan gaun berwarna coklat muda dan wedges senada ia melangkah terpincang-pincang. Rambut panjangnya sudah dikeriting gantung.  Dia sudah selesai dimake-over. Bebek itu telah menjelma menjadi angsa yang cantik. Tapi, tiba-tiba sekitar menjadi gelap. Seseorang menyekap matanya. Tangannya seperti dituntun seorang namja.
“opp…pa?” ia seperti mengenali tangan itu sebagai tangan Minho.
Minho hanya diam sambil membimbing Sully ke mobil. Dan melarangnya membuka penutup matanya.
“Aku akan mengenalkanmu pada calon istriku….”
“Mwo? Kenapa aku harus berpakaian seperti ini? Ini terlalu berlebihan.”
“Istriku seorang mantan model. Jadi ia sangat cantik dan semampai, tidak sepertimu yang berantakan, Sully..”
Glek!!! Sully menelan ludahnya. ‘Aahh,, bukankah dulu waktu SMA aku juga pernah berdandan seperti ini? Sebagai seorang model? Tak apalah. Ia sadari selama ini tak pernah sempat berurusan dengan kecantikan . Anggap saja kali ini ia menghormati pertemuannya dengan calon istri Oppa ‘ batin Sully sambil menenangkan gejolak di hatinya.
Sedang di sampingnya, Minho hanya tertawa geli.
Mobil berhenti, Minho menuntunnya. Ia lalu mempersilahkan Sully duduk.
Sesaat kemudian, Sully mendengar suara langkah anggun sepatu hak tinggi seorang perempuan.
“apakah calon istrimu sudah datang, Oppa?”
“ya, sekarang, bukalah penutup matamu.  Dia ada di depanmu..”
Sully tak sabar membuka penutup matanya. Agak buram, lalu makin lama makin jelas.
Oopppsss. Sesosok perempuan muda sudah berdiri. Ia berhak tinggi, tapi kenapa? Berpakaian pelayan restoran hotel bintang lima?
“oppa… dia …yeonja-chingumu? calon istrimu?”  Sully membulatkan kedua mata sipitnya.
“anny… lihatlah cermin itu.. dia calon istriku.”
Sully segera menatap cermin yang diletakkan pelayan tadi di meja depannya.
“mana oppa? Tak ada calon istrimu di sini…”. Sully hanya mendapati dirinya seorang di cermin itu. Lalu menoleh ke belakang.  Tak ada siapa-siapa.
“bodoh!” Minho menjitak kepala Sully. “bagaimana mungkin seseorang yang bodoh sepertimu menjadi  dokter?”
Minho segera berjongkok meraih tangan kiri sully, meletakkan cincin permata berkilauan itu di jari manisnya. Lalu ia mencium punggung tangannya.
“Maukah kau menikah denganku, Chagi? Aku sudah menunggu saat-saat ini ….”
Jantungnya sungguh berdegup sangat kencang. Ia salah tingkah. Sejurus kemudian, dua perempuan yang tak lain Omma dan sepupunya datang.
“Terimalah, Sully. Omma sudah menyetujuinya. Sebenarnya, Minho sudah melamarmu pada Omma sejak bertemu ia pertama kali itu.”
Perasaan Sully kini membuncah. Tak ada kata-kata yang kuasa ia ungkapkan,  hanya anggukan halus.
“Gomawo, Chagi….saranghaeo…” Minho merangkulnya erat.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar