RENUNGAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19
Saat aku menulis ini, tanggal 16 September 2020. Umurku 25 tahun. Aku sudah menikah, tapi belum diamanahi menjadi orang tua. Secara profesi, alhamdulillah aku sudah diangkat menjadi PNS sejak bulan maret lalu. Aku diterima sebagai CPNS 1 tahun sebelumnya tepatnya TMT tugasku adalah 1 Maret 2019.
Di mata lingkunganku yang notabene-nya tinggal di desa, jadi PNS adalah prestise tersendiri. Banyak orang yang mendambakan menjadi 'aku'.
"Enak ya baru lulus udah diangkat"
"Enak ya sekali tes langsung keterima"
Atau kata yang lebih sopan.
"Wah, beruntung ya kamu nduk, ibu kamu dulu doanya apa ya?"
Ada lagi yang nyelekit.
"Dulu pake dukun mana?"
"Dulu biar keterima bayar berapa?"
dan errr .... aku hanya bisa menjawab 'Alhamdulillaah ... pangestunipun.' atau ya tak jawab apa adanya kalau aku murni tes dan emang gak pake dukun atau nyogok ke siapapun. rahasianya ya doa orang tua, suami, keluarga besar dan semua orang yang tulus mendoakan. dan mungkin, faktor qodarullah yang kita tidak pernah tahu mau dibawa ke mana nasib kita.
Kembali lagi. di sini aku tak ingin bercin-cong ria mengenai PNS. tapi di sini aku ingin merenung tentang Covid-19. dari sudut pandang keadaanku sendiri. Alhamdulillah aku harus banyak bersyukur aku masih diberi pekerjaan tetap. Ada di luar sana orang yang masih bekerja tapi gajinya dipotong karena pandemi kondisi keuangan perusahaan jadi kurang stabil, ada yang usahanya kembang kempis, dagangannya tidak laku, atau bahkan dipecat. ikut sedih sekaligus terenyuh, kondisi ini tidak pasti. tidak pasti kapan kan berakhir. dan tidak pasti kapan kita akan jadi korban berikutnya. atau bahkan apakah kita ditakdirkan pengisi makam berikutnya? wallahua'lam ...
Syukuri selagi paru-paru kita masih bisa menangkap oksigen. syukuri jika kita masih bisa masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang kita sayang. Apalagi keluarga kita masih utuh. yang paling penting, kita masih menjadi segelintir dari ratusan ribu korban yang terkena virus ganas ini.
Pandemi itu seperti hantu, tidak terlihat, kemunculannya di tubuh kita bisa tiba-tiba. Saaat kita berinteraksi dengan siapapun, menyentuh apapun, atau pergi kemana. Kita tidak pernah tahu apakah virus itu mengenai kita atau tidak.
Kehadiran virus ini bisa membuat orang yang tidak berdosa bisa dijauhi tiba-tiba. orang yang tidak berbuat jahat dipenjara 14 hari (isolasi maksudnya, hihiii). Hmm, ngeri juga sih, semoga saja aku tidak mengalami hal yang sama, amiin...
Diberi sehat saja sudah bersyukur banget. Cukup berusaha semaksimal mungkin dengan menjaga kebersihan, rajin cuci tangan / handsnitizer, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak, dan lain-lain.
Agak kaget juga mungkin satu minggu lalu, angka kematian dokter sudah mencapai seratusan lebih. Aku yakin mereka adalah Syuhada kehidupan. kematian mereka adalah kematian pejuang di jalan Allah.
kita tidak boleh berleha-leha. kita juga bisa menjadi pahlawan dengan cara kita.
Sekian ...
(Bersambung ...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar