Selasa, 15 September 2020

 RENUNGAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Saat aku menulis ini, tanggal 16 September 2020. Umurku 25 tahun. Aku sudah menikah, tapi belum diamanahi menjadi orang tua. Secara profesi, alhamdulillah aku sudah diangkat menjadi PNS sejak bulan maret lalu. Aku diterima sebagai CPNS 1 tahun sebelumnya tepatnya TMT tugasku adalah 1 Maret 2019. 

Di mata lingkunganku yang notabene-nya tinggal di desa, jadi PNS adalah prestise tersendiri. Banyak orang yang mendambakan menjadi 'aku'. 

"Enak ya baru lulus udah diangkat"

"Enak ya sekali tes langsung keterima"

Atau kata yang lebih sopan.

"Wah, beruntung ya kamu nduk, ibu kamu dulu doanya apa ya?"

Ada lagi yang nyelekit.

"Dulu pake dukun mana?"

"Dulu biar keterima bayar berapa?"

dan errr .... aku hanya bisa menjawab 'Alhamdulillaah ... pangestunipun.' atau ya tak jawab apa adanya kalau aku murni tes dan emang gak pake dukun atau nyogok ke siapapun. rahasianya ya doa orang tua, suami, keluarga besar dan semua orang yang tulus mendoakan. dan mungkin, faktor qodarullah yang kita tidak pernah tahu mau dibawa ke mana nasib kita. 

Kembali lagi. di sini aku tak ingin bercin-cong ria mengenai PNS. tapi di sini aku ingin merenung tentang Covid-19. dari sudut pandang keadaanku sendiri. Alhamdulillah aku harus banyak bersyukur aku masih diberi pekerjaan tetap. Ada di luar sana orang yang masih bekerja tapi gajinya dipotong karena pandemi kondisi keuangan perusahaan jadi kurang stabil, ada yang usahanya kembang kempis, dagangannya tidak laku, atau bahkan dipecat. ikut sedih sekaligus terenyuh, kondisi ini tidak pasti. tidak pasti kapan kan berakhir. dan tidak pasti kapan kita akan jadi korban berikutnya. atau bahkan apakah kita ditakdirkan pengisi makam berikutnya? wallahua'lam ...

Syukuri selagi paru-paru kita masih bisa menangkap oksigen. syukuri jika kita masih bisa masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang kita sayang. Apalagi keluarga kita masih utuh. yang paling penting, kita masih menjadi segelintir dari ratusan ribu korban yang terkena virus ganas ini.

Pandemi itu seperti hantu, tidak terlihat, kemunculannya di tubuh kita bisa tiba-tiba. Saaat kita berinteraksi dengan siapapun, menyentuh apapun, atau pergi kemana. Kita tidak pernah tahu apakah virus itu mengenai kita atau tidak. 

Kehadiran virus ini bisa membuat orang yang tidak berdosa bisa dijauhi tiba-tiba. orang yang tidak berbuat jahat dipenjara 14 hari (isolasi maksudnya, hihiii). Hmm, ngeri juga sih, semoga saja aku tidak mengalami hal yang sama, amiin...

Diberi sehat saja sudah bersyukur banget. Cukup berusaha semaksimal mungkin dengan menjaga kebersihan, rajin cuci tangan / handsnitizer, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak, dan lain-lain. 

Agak kaget juga mungkin satu minggu lalu, angka kematian dokter sudah mencapai seratusan lebih. Aku yakin mereka adalah Syuhada kehidupan. kematian mereka adalah kematian pejuang di jalan Allah. 

kita tidak boleh berleha-leha. kita juga bisa menjadi pahlawan dengan cara kita. 

Sekian ...

(Bersambung ...)


Selasa, 05 April 2016

menyerah saja menjadi fangirl

awalnya aku tak begitu mengenal dunia 'hallyu' .... aku hanya gadis awam yang tak tahu menahu tentang entertanit, khususnya yang berasal dari luar negeri.
semenjak ada laptop dan gadget, dan aku bisa bebas mengakses apapun yang aku mau, sampailah aku pada taraf hiper ketagihan kalau aku sedetik aja gak menyimak tentang hallyu ...
entah drakor, musik, dance, sampai gosip kehidupan pribadi artis-artisnya ...
sampai sekarang pun aku tak bisa memungkiri kalau aku masih menyukai hallyu ... masih ngefans artis-artis korea ... rajin nonton drakor, ... budaya mereka, fashion, dan musiknya ....
tapi, aku sangat kecewa dengan seorang bias yang dulu kugandrungi ...
seorang public figure yang dulu memiliki image cute dan polosnya.  memiliki banyak talenta, periang, cantik apa adanya tanpa oplas, dan hmm pokoknya perfect apalagi saat dia disatuin main bareng di sebuah drama bareng seorang labelmate-nya...
aahhh ... benar-benar citra sempurna seorang idol. sampai aku tidak bosan menyimak kehidupan pribadinya ... sampai aku kerap menulis ff tentang dia ... sampai terbawa mimpi ketemu dia ... sampai berharap mimpi itu menjadi kenyataan ...
ahh sekarang apa daya ... biasku telah berubah. image-nya yang innocent kini mulai luntur seiring dengan postingan dan berita-berita miring tentangnya.
andai saja biasku itu juga mengenalku, ingin kunasehati untuk memperbaiki hidupnya ...
apalah daya ... nasib fangirl tinggal nasib ... siapa dia siapa aku ...
dia sudah memilih untuk menjadi seperti itu ...
aku hanya ingin tulus berdoa semoga kau mendapatkan yang terbaik untuk hidupmu ... semoga aku pun baik-baik saja walau aku sudah tidak lagi menjadi fans-mu.
selamat tinggal ... kau ... yang pernah ada dalam anganku ..  khayalku ... dan kini semuanya tlah berlalu ...
kau memiliki hidupmu ... dan aku memiliki hidupku ....


Rabu, 30 Desember 2015

Fanfiction Minsul couple againn



My Sleepy Princess

 

Author : Choi Runnisa
Maincast : Choi Minho, Choi Jinri, Kim Dayoung (as Jimin, Minho dan Jinri’s child)
Genre : Romance, sad, family
Length : Oneshoot
Suara sorak sorai dan tepuk tangan membahana di seluruh penjuru aula. Aku adalah salah seorang yang paling bersemangat berdiri dan memberi tepuk tangan keras-keras. Gadis kecil bergaun putih selutut itu melompat-lompat di atas panggung sambil mengacung-acungkan piala ke atas dengan kedua tangannya.
Dan saat acara usai, dia berlari menyongsong ke arahku dan kubalas dengan pelukan erat sekali. 
“Jimin-ah …. Appa bangga padamu sayang….”
“Appa jangan terlalu kencang memelukku, nanti pialaku rusak …” aduhnya dengan suara cempreng.
Aku mengendorkan pelukan. Sambil menyeka air mataku yang membasahi pipi dengan punggung tangan.
“Appa menangis?” tanyanya dengan melebarkan matanya. Dia memang gadis yang mewarisi mata beloku.
“Tidak. Kajja, kita pulang.” Aku bangkit berdiri dan kami berjalan beriringan menuju tempat parkir.
Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, dia terus bersiul-siul ria. Sebelah tanganku digenggamnya sambil diayun-ayunkan, dia juga melompat-lompat kecil sepanjang jalan.
“Hati-hati Jimin … nanti  jatuh …” omelku karena si lincah ini memakai sepatu kaca yang agak tinggi.
“Appa, nanti kalau aku jatuh dan sepatunya lepas. Apakah akan ada pangeran yang menemukannya?”
Ia menghentikan langkahnya membuatku juga berhenti. “Pangeran?”
“Ya, kata eomma, Cinderella sepatunya lepas saat pesta …”
Aku menepuk jidatku sambil tersenyum geli. “Pasti appa yang akan mengambil sepatumu.”
“Kok appa? wae?”  protesnya.
“Bukankah appa yang sedang bersama princess appa sekarang?”
“Andwe … pangeranku pasti tampan. Pasti bukan appa …” dia mempoutkan bibirnya.
“Mwo??? dasar gadis nakal.” Aku mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Dia berteriak-teriak minta diturunkan.
                                                   ***
Dia meletakkan piala besar itu di nakas samping ranjang. lalu megecup pipi tirus itu lama sekali.  Ia menatap wajah tak berdaya milik ibunya dalam diam. Lalu beringsut duduk di pangkuanku.
Ia menatap lekat-lekat saat tanganku meremas lembut jemari ibunya.
“Jinri …” sambutku pada istriku. Hari ini aku mengunjunginya lagi seperti biasanya. namun kali ini lebih terlambat karena aku baru menjenguknya di siang hari, dengan membawa serta Jimin yang ingin memberi hadiah special untuk ibunya. Jarang sekali aku membawa serta dia karena aku pun tahu rumah sakit bukan tempat untuk anak kecil. Namun hari ini aku memenuhi janji untuk putri kecil kami yang sudah satu bulan lebih tidak bertemu dengan ibunya.
“Eomma …” timpal JImin. “Bangun eomma …” tangan kecilnya mengguncang lengan ibunya.
Wanita itu tetap diam. Jimin muram karena ibunya selalu diam.
“eomma suka sekali tidur.” Gerutunya kesal. Aku mengelus rambut anakku yang hitam panjang dengan perasaan teriris. Bagaimana perasaanmu melihat gadis kecil yang polos ini selalu memanggil ibunya yang sudah lama tidak bangun?
“Di sini ada anak kita, sayang … dia merindukanmu ….” Aku mencoba mengeluarkan kalimat bujukan yang tentu saja itu sia-sia. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. kami hanya menunggu keajaiban Tuhan untuk bangunnya peri cantik kami.
“Jinri … di sampingmu, ada piala anakmu … dia menghadiahkannya untukmu. Jimin sudah menepati janjinya. Hari ini dia sengaja ikut datang hanya untuk bertemu dirimu … tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih untuknya? Tidakkah kau ingin memeluknya?”
“Jinri … hari ini dia bernyanyi dan bermain piano dengan sangat merdu dan indah sekali. Lagu yang dibawakannya adalah  ‘twinkle-twinkle little star’ yang selalu kalian nyanyikan. Apakah kau mendengarku, sayang?”
“Jinri … kemarin aku mengukur tinggi anak kita …. Sudah bertambah dua sentimeter hanya dalam waktu satu bulan. Dia paling tinggi di kelasnya … apakah itu berarti aku sudah mengganti peranmu dengan baik dengan memberi gizi yang cukup untuknya? Kau ingat bukan kau orang yang paling rewel dalam memperhatikan perkembangan Jimin …”
“Jinri … maafkan aku. Selama ini aku meremehkan peranmu dalam menjalani tugasmu. Ternyata aku belum sanggup menjadi ayah yang baik untuknya. Bahkan kemarin aku tidak tahu cara membuat kimbap untuk piknik di sekolahnya. Untunglah neneknya bersedia datang ke rumah kita. Dia membuat banyak kimbap untuk Jimin. Aku pun juga membawanya beberapa untuk bekalku di kantor. Tapi …. Saat memakannya. Aku merasa sulit menelannya. Masih enak masakanmu sayang. Aku merindukan olahan tanganmu sendiri…”
“Jinri … berulang kali aku tidak bosan menyebut namamu … bosankah kau mendengarnya? apakah aku terlalu banyak mengoceh? Maafkan aku. Aku tidak akan marah bila nanti kau mencubit lenganku seperti dulu saat kau kesal padaku. Jinri … sejak kau tidur lama sekali …. Aku merasa menjadi manusia yang seratus kali lebih banyak bicara daripada diriku yang dulu, karena kau membuatku jengkel dengan diammu…. Nanti kalau kau bangun … kuharap rumah kita akan penuh dengan tawa lagi. anak kita juga mewarisi sifat bawelmu ….”
“Jinri …. Aku selalu memohon pada Tuhan untuk memberi kita kesempatan kedua agar dapat bersama-sama lagi seperti dulu. Aku sungguh mencintaimu …”
Tak terasa air mataku menetes saat mengucapkan kalimat yang terakhir itu. hatiku seperti diremas-remas kala mengingat kemungkinan kecil dia tetap bertahan untukku.
Cara dia tertawa, tersenyum, marah, omelannya, semuanya kini begitu kurindukan. Belaian lembutnya adalah penawar mujarab untuk mengobati gundah hatiku. Suara merdunya dan denting pianonya di sudut rumah kami, adalah melodi yang tidak bisa kuhapus dalam memoriku.
Segala kebersamaan terindah yang kami rangkai sejak sebelum menikah sampai sekarang, berputar dalam benakku seperti slide film yang diputar berulang-ulang. Terus menerus hingga memukul perasaanku. Membuat penyesalanku semakin datang bergulung-gulung bagai debur ombak yang tidak bisa berhenti.
Tidak jarang aku merasa kesal karena dia terlalu memperhatikan anak kami daripada aku. Tidak jarang aku mengacuhkannya saat dia minta tolong sesuatu dan aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Tidak jarang pula aku tidak membalas pesan-pesannya untuk sekedar memperhatikan diriku seperti makan dan istirahat.
Kini saat rumah selalu dalam keadaan kosong, aku menyadari bahwa dialah malaikat yang dikirimkan Tuhan dalam hidupku.
Dia mengalami cedera otak berat karena kecelakaan bus saat mengikuti darmawisata sekolah tempatnya selama ini mengajar. Berturut-turut para korban lain yang sempat mengalami luka berat masuk ICU sudah dipanggil oleh-Nya. Hanya Jinri yang masih bertahan bahkan hingga satu bulan lebih.
Aku masih menunggunya. Aku tidak peduli pada kemungkinan kecil itu. sekecil apapun kemungkinan ia akan bangun lagi, aku tetap berharap dia hadir lagi pada kehidupan kami. tak bisa kubayangkan JImin akan kehilangan ibunya di usianya yang masih sangat kecil. Anakku belum mengerti apa-apa.
Aku tak akan meminta apapun pada Tuhan dalam doa-doaku selain agar malaikat kami kembali. Aku menerima apapun keadaan Jinri. Meskipun pengorbananku nantinya tidak sebanding dengan kesalahan yang telah kulalukan di masa lalu. namun setidaknya aku akan menerima Jinri apapun keadaannya nanti. Sekali lagi asalkan malaikat kami kembali.
                                                   ***
 100 hari koma …
Gadis kecilku merengek lagi minta ikut menjenguk ibunya. Namun ada yang aneh dengan sikapnya. Dia membawa sebuah buku dongeng bergambar yang dibelikan neneknya. Katanya, buku itu adalah petunjuk untuk menyembuhkan ibunya.
Awalnya aku geli dengan sikap konyol Jimin. Gadis kecilku yang masih TK itu selalu saja membuat ulah yang aneh-aneh. kata orang rumah, sudah sejak seminggu lalu dia membaca dongeng itu keras-keras sebelum tidur, dengan meminta siapapun orang yang ada di rumah untuk menyimak bacaannya. Sayang sekali aku tidak bisa ada di sampingnya membaca cerita karena aku baru saja pulang dari luar negeri untuk sebuah proyek kantorku yang tidak bisa ditangguhkan.
Tapi di hari tidur ke seratus ibunya ini aku sudah berjanji untuk menemaninya, mendengar ia bercerita untuk ibunya. Kata eomma, dia sudah sangat lancar membaca.
Dengan antusias kami duduk di samping ranjang Jinri.
“Eoh, appa. pakaikan ini di rambut eomma.” pintanya sambil menyodorkan mahkota kecil dari plastic padaku. Aku hanya menurut padanya. tubuhnya masih terlalu pendek untuk meraih kepala ibunya. Aku hanya meletakkan mahkota itu di atas kepala Jinri, karena kepalanya dibebat perban.
“Eomma, hari ini eomma menjadi tuan putri dan appa menjadi pangerannya…. ” Serunya bersemangat. “Eomma, appa …. dengarkan Jimin, ne?”
“dahulu kala, hiduplah raja dan raja dan ratu yang sangat baik hati, setelah bertahun-tahun menanti, akhirnya ratu melahirkan seorang bayi perempuan. Kelahiran bayi itu dirayakan. Enam peri baik hati datang pada perayaan istana. Tetapi raja lupa mengundang seorang peri ke tujuh yang sangat jahat dan kejam. Lima peri baik hati masing-masing memberi hadiah untuk sang bayi. Ketika peri ke enam hendak mengucapkan permintaannya untuk putri, tiba-tiba peri yang jahat muncul dengan wajah marah. “Sang putri akan mati,” kata peri jahat. “jari putri akan tertusuk jarum pintal”. “tidak”, kata peri ke enam. “Aku beri hadiah agar putri tidak mati, melainkan tidur selama seratus tahun”. Sang ratu menangis dan raja berteriak marah. “Semua mesin pintal di kerajaan ini harus dibakar dan dimusnahkan,” kata raja. “maka jari putriku tidak akan pernah tertusuk oleh jarum mesin pintal”. Waktu berlalu, sang putri tumbuh dewasa di istana, saat umurnya tujuh belas tahun, sang putri merayakan ulang tahunnya yang amat meriah. Tapi lagi-lagi, mereka lupa mengundang peri jahat. Hari berikutnya, sang putri menemukan tangga rahasia di dalam istana. Tangga itu membawanya ke sebuah ruangan yang tersembunyi. Di dalam ruangan itu, ada seorang nenek duduk di depan mesin pintal. Sang putri tidak tahu nenek itu adalah peri jahat yang sedang menyamar. Putri menyapa nenek itu, lalu nenek itu mengajaknya untuk menunjukkan mesin pintalnya. Nenek alias peri jahat menusukkan jarum ke jari sang putri. Dan seketika sang putri tertidur. Semua penghuni istana pun tertidur. Keenam peri menjaga istana itu dengan baik hingga seratus tahun lamanya. Tidak ada yang bergerak dalam istana itu. hingga sekeliling istana ditumbuhi hutan lebat. Hingga suatu hari, datanglah pangeran muda. Ia bertanya pada seorang kakek tua tentang istana itu. sang pangeran pun melanjutkan perjalanan ke istana. Pepohonan membuka seakan menuntun sang pangeran masuk ke dalam istana. Semuanya hening. Ia berjalan melewati tangga dan menemukan putri yang tertidur. Sang putri Nampak begitu jelita. Sang pangeran kemudian menciumnya dengan lembut. Putri pun perlahan membuka matanya dan tersenyum.” Akhirnya, seorang pangeran tampan datang menyelamatkanku,” katanya. Semua yang ada di istana ikut bangun. Raja pun mengadakan pesta, putri dan pangeran akhirnya menikah dan bahagia selamanyaa…”
Aku memberi tepukan ringan dan mencium pipi tembam putriku dengan rasa haru dan bangga. Namun dia malah cemberut dan mendorongku. “Seharusnya pangeran mencium tuan putrii …” protesnya. “Appa … appa harus mencium eomma supaya eomma cepat bangun …” rengeknya lagi.
Aku tertegun beberapa saat mendengar ucapan putriku. “Appa palliwaa… pallii …” dia terus mendesakku.
Kudekatkan wajahku ke wajah pucat Jinri. Dia terlihat damai dalam tidurnya. “Maafkan aku sayang, aku mengganggu tidurmu. Tapi kali ini kau harus bangun demi kami. Kau harus bangun.” Bisikku dalam hati. Entah mengapa kali ini tiba-tiba aku begitu percaya dengan dongeng yang dibawakan Jimin.
Ku tempelkan bibirku di dahinya. Kukecup cukup lama sambil berlinangan air mata. Aku memejamkan mataku membayangkan ciumanku di dahinya saat menikah dulu. Aku tidak mungkin mencium bibirnya sekarang karena bibir dan hidungnya tertutup alat bantu pernafasan. Kecupan di dahi sudah mewakili seluruh perasaanku padanya.
Tiba-tiba Jimin berteriak hingga membuyarkan lamunanku. “Appa …eomma menangis … eomma menangis …”
Sontak jantungku seperti meloncat. Rasa lega, senang, haru, bercampur menjadi satu. Kami melihat sendiri betapa air mata Jinri mengalir dari kedua ujung kelopak matanya.
Aku ikut menangis bahagia sambil memeluknya. Lalu mengecup dahinya sekali lagi.
Jimin dengan tingkahnya yang lugu ikut meneteskan air mata tersedu-sedu, sambil menghapus air mata ibunya dengan tissue. “Eomma …” ucapnya lirih.
Hanya sekejap kami menangis haru, tiba-tiba alat pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring dengan angka dan berbagai lambang di dalamnya berkedip-kedip. Seketika aku merasa panic dan melihat napas Jinri yang sudah bersuara seperti pompa ban manual itu.
Mataku langsung terasa menggelap. Beberapa orang dokter dan perawat segera berhambur datang dan menyuruh kami keluar. salah seorang dokter berucap “kode blue …” aku tak mengerti apa arti kata-kata itu. namun yang jelas, aku sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi setelah itu. Jimin berteriak histeris, namun aku dengan susah payah berhasil membopongnya keluar.
Seketika tubuhku lemas. Di dalam sana, suasana tegang dan panik. Tubuh kami melorot ke lantai keramik rumah sakit yang dingin. Jimin memelukku sambil menangis, namun aku tidak sanggup membalas pelukannya karena tubuhku tak memiliki daya apa-apa lagi.
                                                               ***
Dua belas tahun kemudian … musim dingin di Seoul ….
            “Presdir Choi, ada kiriman untuk anda.” Kata sekretarisku. Aku menyuruhnya meletakkan box paket kiriman kilat itu di meja tamu.
Beberapa menit kemudian, aku meregangkan tubuhku yang sudah terasa pegal-pegal. Beberapa tumpuk file sudah kutanda-tangani dan kini saatnya aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mungkin inilah efek dari tubuh yang sudah mulai senja. Umurku sudah menginjak 40-an. Dan apalagi Jimin putriku sudah meninggalkanku selama satu semester ini untuk berkuliah  di luar negeri.
Kubuka paketan itu, sebuah kartu pos bergambar patung liberty menyembul terlebih dulu.
“Appa, sudah sampaikah kirimannya padamu? Mianhae, appa. mungkin pemberianku tidak mahal. Lagipula ini kan juga paket pertama yang kukirimkan padamu? Sayang sekali bukan kalau aku langsung mengirim kado mahal tapi tidak sampai? LOL xD. Sekarang musim dingin, mungkin ini hanya syal sederhana. tapi di sana sudah ada seribu kehangatan dariku untuk appa. Saengil Chukka hamnida appa …. Oh ya…. Tunggu aku appa. aku akan pulang saat liburan musim panas tiba.”
Aku tersenyum haru. Kupungut Syal itu lalu kukalungkan di leherku. Tetes demi tetes salju telah terlihat turun di luar jendela kantor. Ini salju pertamaku tanpa kehadiran Jimin. Dulu saat Jimin masih ada di sisiku, hidupku tak senelangsa ini.
Hidupku benar-benar sepi. Apalagi saat aku sendirian seperti ini. Rasa rindu benar-benar menyengat hatiku. Aku masih harus menunggu kepulangan putriku beberapa bulan lagi saat musim panas tiba. ahh masih lama sekali.
Bosan menatap rintik-rintik salju di pinggir jendela kantor, aku menyalakan laptop dan menonton video rekaman kami bertiga dulu. Kehangatan yang masih utuh saat ada ‘dia’. Saat dia tertawa sambil menekan tuts-tuts piano dan membimbing Jimin bernyanyi. Saat aku dengan serunya merekam detik demi detik momen yang benar-benar penuh keceriaan dan tawa. Lalu saat dia perform dalam sebuah pagelaran musiknya. Dengan gaun putih selututnya yang anggun, dia menyihir seluruh ribuan pasang mata dan telinga yang mendengar permainannya. Video terakhir yang tak sanggup kutonton, saat dia meniup lilin ulang tahunnya yang terakhir, dua belas tahun yang lalu … matanya yang berkaca-kaca di bawah temaram lampu taman. Dan juga aku dengan wajah konyol mencolek krim kue tart ke pipinya. Kami berdua duduk di bawah lampu taman, di tengah malam  tanpa ada siapa-siapa termasuk Jimin kami karena dia sudah tertidur. Tak kusangka itulah rekaman romantisme terakhir kami. Satu minggu sebelum kecelakaan itu membuatnya menjadi putri tidur untuk selamanya.
            Beberapa bulan kemudian, musim panas di Seoul ….
            “Appa …” teriaknya. Dia meninggalkan kopernya dan berlari ke arahku.
Tubuhku mematung. Gadis tinggi semampai dan berpipi tirus itu berlari ke arahku. Jantungku berdetak lebih kencang. Dia benar-benar duplikat Jinri. Caranya berlari, memelukku, kulit putihnya, wajahnya, rambutnya, hanya mata belo-nya lah yang menyadarkanku bahwa sekarang ini dia adalah putriku.
            “Apa kabar…, nak??” tanyaku tersendat. Air mataku menetes karena buncahan rasa rindu. Aku mencium keningnya lama.
            Kami pun pulang meninggalkan area terminal kedatangan bandara Incheon sambil bergandengan tangan.
            Jimin sudah berjanji akan menyempatkan pulang walau hanya satu tahun sekali. Hidup kami terus berlanjut walau tanpa kehadiran ‘dia’. Walau dongeng putri tidur tidak menjadi kenyataan dalam kehidupan kami, setidaknya aku dan putriku masih mencintai ‘dia’. Hingga aku sampai hari ini pun tak pernah bisa menemukan penggantinya. Hidup ini hanya sementara. Tuhan yang memiliki rencana indah di luar kuasa kita. Walau 'dia’ sudah tiada lagi di sisi kami, namun cintanya yang begitu indah masih menjadi hal yang tak bisa terganti.
~THE END~





Minggu, 10 Agustus 2014

my first fanfiction



BE MINE!
Author: Khoirun Nisa’ (Choir Ni Sa)
Main Cast: Choi Min Ho, Choi Sully.
Genre: Sad, Romance, Medical.
 “Oppaa…”, gadis kecil menghentikan pekerjaannya. “origamiku sudah selesai.”
“Bagaimana caranya Sully? Kenapa kau cepat sekali?”
“Kemarilah. Kuajari oppa” lalu dengan lincah gadis kecil itu mengajari anak laki-laki yang lebih tua, yang selalu ia panggil Oppa sejak kecil.
Beberapa saat kemudian, ibu Minho datang memintanya untuk segera berpamitan.
“Omma, aku masih ingin sekali bermain dengan Sully. Kenapa harus pulang sekarang?”
“Sayang, kita harus segera berkemas, appa sudah menunggu kita.. nhe?”
“Sully, Kapan-kapan kita bermain lagi, yach? Bye…”, Minho dan ommanya berpamitan.
Sully jadi cemberut karena sahabat kecilnya itu harus pergi, padahal ia masih ingin bermain dengan Minho oppa-nya.
Minho terus berlalu menjauhi rumah besar yang ditinggali keluarga Sully. Ia tak berhenti menatapnya. Seakan-akan esok hari tak akan ada lagi hari di mana ia bisa bermain lagi dengan Sully di rumah itu.
***
Pagi itu, Sully sarapan bersama kedua orangtuanya seperti biasa. Tapi, tidak biasanya ayah dan ibunya sudah berpakaian  rapi selain karena mereka berpakaian untuk ke tempat kerja.
“Eomma, kita mau ke mana? Kok sudah menyuruhku buru-buru .” Tanya Sully penasaran usai menyelesaikan sarapannya.
“Kita akan mengantar keluarga Minho ke bandara, ayah dan ibunya kan sahabat dekat keluarga kita, mereka akan pindah ke Amerika sayang.”
“Mwoo? Kenapa oppa tak pernah memberitahuku omma….” Protes Sully tak percaya.
“Sudah Sully, ayo nanti kita terlambat.” Appa menghentikan protes Sully.
***
Bandara Incheon, 2001
“Bibi… jangan pergi…!!!!”
“Sayang,..” omma Minho mengelus rambut panjang Sully yang dikepang dua itu dengan lembut.
“Kami juga sayang sekali padamu, kamu sudah bibi anggap sebagai anak perempuan bibi sendiri. Tapi harus bagaimana? Bibi dan Minho harus pindah ke California, karena paman pindah kerja ke sana. Kalau ada waktu, mainlah ke rumah kami, sayang. Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian.”
Minho kecil mengusap air matanya. “Sully, ambillah topi ini..” Minho menyodorkan topi hitam yang dipakainya.
“Ini juga untukmu, oppaa..” Sully memberikan gelang plastic miliknya, dan memasangkannya di pergelangan Minho.
“Berjanjilah, kita akan bertemu lagi,” dua sahabat kecil itu saling mengkaitkan kelingking kecil mereka.
Beberapa saat kemudian, pesawat itu telah lepas landas meninggalkan bandara.
***
Bandara Incheon, 2014.
Namja bermata kodok itu sudah sampai ke Korea dengan lega.
Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana jika ia bertemu Sully nanti. Ia kini sudah mendapat gelar dokter spesialisnya lebih cepat. Tak sabar , bermaksud untuk segera bertemu Sully, sahabat kecilnya, sekaligus adik kelasnya dulu waktu SD. Sudah lama ia hilang kontak dengan Sully saat ia akan menempuh study kedokteran dulu. Waktu itu ia ingin konsentrasi dengan sekolahnya. Sedang sully terakhir kali mengiriminya foto berseragam SMU melalui e-mail. Hanya itu kini bekal Minho mencari yeonja yang cantik itu. Ia tak tahu kini kabarnya, keluarganya, bagaimana wajahnya, ataupun menjadi apa ia sekarang. Sully bohong, saat itu ia berjanji akan mengunjungi Minho. Tapi tiba-tiba setelah terakhir kali kontak, ia sudah tiada kabarnya lagi.
Minho mencari-cari temannya yang sudah berjanji menjemputnya. Papan bertuliskan Choi Minho itupun akhirnya ketemu. Laki-laki putih seusianya itu melambai-lambaikan tangan sekaligus menghampirinya.
“Aigooo… bagaimana kabarmu Dokter Choi… sudah sangat lama kita tak bertemu. mereka saling berpelukan.
“Kajja, ayo kita pulang. Ibuku sudah menunggumu, kawan.”
Mobil terus melaju. Kawan Minho itu tak berhenti bercerita tentang kehidupannya, hingga Minho bosan mendengarnya, tapi ia ingin tetap menjadi pendengar yang baik.
“Hei, apakah kau ingat dengan Sully, adik kelas kita waktu SD itu?”
Agak lama laki-laki itu mengingat gadis yang disebut Minho. “oh, geure.. gadis cengeng yang rambutnya selalu dikepang dua itu?? bahkan aku sempat satu SMU dengannya. Waah.. dia menjadi angsa yang sangat dikagumi anak laki-laki di sekolahku. Selain cerdas, dia juga sempat menjadi model, lho. Tapi, ia lalu lebih memilih konsen sekolahnya. Kasihan dia…”
“Kasihan bagaimana??? Terus bagaimana kabarnya sekarang?”
“Itulah, sejak lulus SMU, aku sudah tak pernah lagi mendengar kabarnya. Tapi yang kudengar terakhir kali. Perusahaan appanya bangkrut karena sang direktur bunuh diri…”
“Mwo???”  Minho melongo tak percaya. ‘mungkinkah itu menjadi penyebab ia juga putus kontak dan tak jadi mengunjungiku di Amerika?’
Keesokan harinya. Minho yang masih hafal jalan menuju rumah Sully yang dahulu itu, terkecoh. Penghuninya kini sudah berganti. Bukan keluarga Sully lagi. Ia menjadi khawatir sekaligus bingung, bagaimana nasib yeonja yang selalu ada dalam mimpinya selama ini itu? Apakah ia menjadi gelandangan sekarang? Ah, tidak. Meskipun perusahaan appanya bangkrut, tapi Omma Sully dulu  masih bekerja sebagai kepala perawat di sebuah rumah sakit.
Minho segera pergi ke rumah sakit tempat dulu omma Sully bekerja, tapi juga nihil. Kata salah  seorang perawat, ia sudah lama pindah. Ke sebuah rumah sakit kecil di sebuah desa. Ia bekerja sebagai sukarelawan medis di sana.
Pikiran Minho menjadi makin kacau. Hari ini ia lelah. Ia juga masih mengurus pekerjaan barunya di sini, dan harus mencari keberadaan keluarga Sully. Ia akan mencarinya lagi esok hari.
***
Di rumah sakit swasta ternama di Korea inilah, Minho memulai pekerjaan barunya sebagai  dokter spesialis anak. Siang itu, ia bermaksud berjalan-jalan di sekitar rumah sakit setelah lelah habis melakukan operasi dan menangani anak kecil yang baru kecelakaan di UGD.
Suasana mengejutkan kembali lagi. Ambulans tiba dengan membawa pasien anak kecil. Sesosok gadis yang kelihatannya tomboy dan  bertopi yang mendampingi anak  di ambulans itu terus berteriak-teriak.
“tolong, dia perempuan bernama Shin Jung Ah, usia delapan tahun, pasien gagal nafas. Sepertinya dia terserang tension pneumotoraks dengan BO. Kami telah melakukan intubasi, cepat. Dia butuh novalung dan operasi pneomotoraks…”, gadis bertopi itu berbicara cepat.
Dokter Minho dan dokter jaga lainnya langsung cepat tanggap memindahkan gadis kecil itu ke bangsal dan melakukan prosedur  alur kerja gawat darurat. Gadis bertopi itu was-was. “apakah kau walinya?” salah seorang dokter jaga bertanya.
“ya, tadinya dia adalah pasien kami. Tiba-tiba tadi pingsan setelah berusaha kabur dari klinik. Kami berusaha menanganinya, tapi karena RS kami tak punya novalung, kami membawanya ke sini..”. gadis itu menceritakan panjang lebar.
oohh,, apakah ia seorang dokter? Gadis sipit yang bergaya berandalan itu sungguh mengagumkan. Gerak-geriknya seperti sudah terbiasa menangani pasien.’ batin Minho sekaligus kagum ketika sekilas mendengarnya. Tapi lalu dia sibuk menangani gadis kecil itu.
“oh, siapa namamu? Kami butuh persetujuan untuk segera melakukan tindakan operasi…”. Dokter jaga mencatat nama gadis itu. Minho sudah tak menghiraukannya lagi.
Beberapa saat kemudian, operasi dilakukan. Gadis bertopi itu duduk di kursi tunggu sendirian. Sekilas, dilihatnya jam tangan di pergelangannya. Sudah satu jam. Tapi operasi itu belum selesai. Ia kehausan, lalu memasukkan koin di mesin penyedia minuman kaleng. Lalu memungut minuman kaleng itu. Meneguk sekaligus sampai habis. Benar-benar gadis tomboy.
Dari mukanya, terlihat ia gadis yang tak pernah memperhatikan perawatan wajah. Dan tingkah lakunya tak menunjukkan sedikitpun keanggunan. Minho yang melihatnya usai keluar dari ruang operasi itu hanya geleng-geleng kepala.
Gadis itu tak sengaja menoleh ke arah pintu  operasi. Dilihatnya dokter tampan itu sudah menatapnya seraya mengerutkan dahi, heran.
“Hei, gadis. Adikmu sudah selesai dioperasi. Kau sekarang bisa melihatnya di ruang perawatan.”
“Kamsahamnida, dokter. Kamsahamnida. Telah menyelamatkan Jung Ah-ku.” Ia membungkuk-bungkukkan badannya, lalu ngeloyor pergi sambil berlari melesat membelah kelengangan koridor rumah sakit.
***
Esok harinya, Minho yang semalaman dibuat tak bisa tidur oleh bayangan gadis itu, kini melihatnya lagi di rumah sakit. Di ruang perawatan gadis kecil Jung Ah.
Tak mengerti, hatinya sungguh berdebar-debar kencang sekali. Ia gugup di depan pintu. Apalagi sekarang gadis itu menyadari kehadirannya. Menatapnya sekilas, lalu kembali tersenyum pada adiknya, Jung Ah yang juga berteriak memanggil namja itu. “Dokter, kemarilah.”
Dengan malu ia menyapa mereka berdua. “annyyeoong Jung Ah.. bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah mendingan?” sapa Minho seraya bergaya membetulkan aliran infuse.
Gadis itu terus saja menatapnya. “oh, Dokter… Minho??” ia memberanikan diri bertanya sambil terdengar suaranya yang gemetar. Minho terkejut bukan main. Kini ia tak bisa melepas pandangannya ke arah lain, hanya pada gadis itu. Gadis yang sudah membuatnya tak bisa tidur semalaman. Membuat jiwanya merekah setelah sekian lama perasaan seperti itu terpendam dalam pusaran waktu. Ya, ia merasakan perasaan itu kembali.
“Oh, ada apa?” ia menjawab dengan agak gagap.
“Anniyo, dokter. Terima kasih dokter sudah mengoperasi Jung Ahku. Jeongmal Gomawo…” gadis itu salah tingkah juga.
‘otteokee… kenapa dia tak ingat padaku? Ataukah dia pura-pura lupa? Ah, sungguh menyebalkan memendam perasaan ini…’ batin gadis itu sungguh kesal dengan perasaannya sendiri.
“Sama-sama, kalau butuh sesuatu, panggil saja saya. Nhe?saya dokter yang menanganinya.”
Kakak beradik itu menganggukkan kepala sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih. Minho pun pergi.
***
Di atas ranjang, Minho yang sudah memakai pijama tidur tetap tak bisa memejamkan matanya. Merutuk dirinya sendiri. Kenapa tadi siang dia sangat gugup? Padahal gadis itu sudah berusaha memulai pembicaraan, bukankah setidaknya ia bisa membalasnya juga dengan ramah seperti yang biasa ia lakukan selama ini terhadap pasien? Aah. Ia masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dan juga, bukankah tujuannya kembali ke Korea adalah untuk mencari Sully yang selama ini ia rindukan? Kenapa yang ada justru jatuh hati pada gadis lain?
“Mwo???” ia terkejut oleh pikirannya sendiri. Ia mulai memejamkan mata. Meraba-raba lagi ingatannya terhadap wajah gadis itu. Gadis kumal itu. tidak…!!!!
Ia langsung berlari mengambil foto Sully saat SMU yang ia taruh di laci. Benar. Ia cocokkan dengan bayangan tadi. Ia segera menyambar HP dan mengirim sms pada salah satu rekannya di RS,  bertanya alamat dari rumah sakit mana pasien Jung Ah-nya dirujuk.
***
Minggu pagi itu minho libur. Ia sudah sampai di sebuah RS kecil yang tak begitu ramai di sebuah desa di pinggiran kota Seoul. Ia bertanya sana-sini pada orang yang bersimpangan dengannya. Di mana ruang dokter cantik gadis kumal itu.
“Oohh,, maaf anak muda. Dokter Sully kalau sedang tidak sibuk begini ia bekerja sebagai pengantar gallon. Tapi sore nanti dia juga sudah pulang. “ ucap nenek yang berpakaian sebagai pasien itu.
Minho kaget setengah mati, kaget mendengar bahwa itu benar Sully seperti dugaannya, sekaligus ia bekerja sebagai pengantar air gallon di hari libur. Ia masih tak percaya bahwa ia adalah  gadis itu.
Ia masih ingat satu hal. “Maaf nenek. Apakah di sini juga ada perawat senior bernama Soo Young?”
Tiba-tiba, satu suara menyahut dari arah sampingnya. “oohh, itu saya sendiri. Maaf, anak muda ini siapa nek? Silakan kembali ke ruanganmu nenek. Kau harus istirahat. Silahkan kau tunggu aku di ruang perawat sebelah sana. “ wanita paruh baya itu menunjukkan sebuah ruang di ujung  lorong.
Minho segera menuruti perintah wanita yang ia yakini ibunya Sully itu. Tak lama kemudian, wanita itu datang dengan dua gelas kopi di tangannya, menyodorkan salah satunya pada Minho, namja tamunya yang sedang diintip banyak perempuan di luar ruang perawat itu.
Sesaat, Minho membungkukkan badan mengucapkan terima kasih dengan sopan. Kemudian ia memperkenalkan dirinya secara langsung. Seketika itu juga ibu Soo young yang sudah belasan tahun tak bertemu dengannya itu sangat terkejut. Segera ia merangkul putra sahabat lamanya itu.
“Bagaimana kabar ayah dan ibumu, Minho? Dan sekarang  apa pekerjaanmu?” kini perbincangan mereka menjadi lebih akrab.
Minho kemudian menceritakan tentang orang tuanya di Amerika yang juga bekerja di bidang medis. Sedangkan ia memberitahu bahwa ia sendiri sekarang sudah bekerja sebagai dokter di RS di Korea dan mulai mencari tempat tinggal sendiri.
“oh, ibu. Ngomong-ngomong. Bagaimana kabar Sully sekarang? Sejak saya akan masuk kedokteran, saya putus kontak dengan Sully.” Minho tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya sedari tadi.
Agak lama ibu Sully tak menjawab. Air matanya menetes satu persatu. Minho segera menyodorkan sapu tangannya.
“Cerita tentang Sully mungkin takkan terbayangkan olehmu, nak. Saat Sully kelas dua SMU, suamiku.. ditemukan meninggal di meja kantornya, diduga karena bunuh diri. Ditambah lagi ternyata perusahaan mengalami kerugian dan menanggung hutang yang sangat banyak, akhirnya dengan pasrah rumah dan seluruh asset kekayaan keluarga kami disita demi menanggung hutang dan gaji pegawai. Saya waktu itu sungguh frustasi, Minho. Apalagi Sully masih sekolah, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman saya di sini, sedang Sully mencari rumah kost di kota, belajar keras dan kerja paruh waktu  sebisanya. Kehidupan yang ia alami begitu keras, nak. Tapi ia tak mengenal kata putus asa. Katanya, ia ingin menjadi dokter dan menyusulmu di Amerika sesuai janjinya. Tapi, sampai sekarang, justru ia sampai lupa dengan mimpinya itu, ia lebih memilih setelah lulus kedokteran bekerja sebagai dokter umum membantu para dokter senior di sini. Ia memilih menghidupi dirinya sendiri mencari uang dengan menemani sepupunya sebagai pengantar air setiap kali ia ada waktu senggang seperti ini…”
Mata minho tak berkedip sama sekali. Ia menunduk membayangkan garis hidup Sully yang begitu sulit ia sendiri bayangkan. Yeonja yang ia sadari sangat ia cintai, mengubur mimpinya sendiri untuk bertemu dengannya.
Minho tak mau terus larut dalam duka. Ia kemudian menatap Soo Young lekat-lekat.
“Bolehkah aku memanggilmu Omma, bu?”
Soo young menunduk pelan, tersenyum seraya mengusap air matanya. Minho merangkul wanita paruh baya itu. “Bukankah sejak kecil dahulu saya sering sekali main dengan Sully di rumahmu? Dan keluarga kita sangat dekat, bu? Keluargamu sejak dulu banyak sekali membantu  kami. Jangan menangis, bu..  anggap saja saya anak ibu… “
***
Hari telah merangkak menuju senja. Truk gallon itu berhenti di depan rumah.  Lalu turun sosok gadis lincah dan kumal itu lalu melambai-lambaikan tangan menatap truk gallon pengantarnya yang kemudian berlalu pergi.
Gadis kumal itu terkejut. Di kamarnya, sesosok namja bermata kodok sudah duduk di tepi ranjangnya.
“Benar-benar. Apa kau baru membantu truk pengangkut sampah? Badanmu sungguh bau.. baru kali ini aku melihat gadis sekumal dirimu…”, namja itu menggerutu.
Gadis yang bernama Sully itu masih melongo tak percaya. Lalu dengan tak sabar menyepak lutut namja bermata kodok itu, gesit.
“yha! Jangan berani-berani kau, ya? Dokter Minho? Punya hak apa kau mengata-ngataiku dan masuk kamarku sembarangan? Dasar sombong. Keluar!!!”
“ommaaa…. Usir pria ini keluar. Tak sopan sekali.”  Ibu yang sedang menyiapkan makan malam itu hanya tersenyum geli melihat anak gadisnya.
“Kau tak ingat? Dia Choi Minho…. Yang dulu kau panggil Oppa….” Omma  bermaksud mengingatkannya.
“tak usah diceritakan lagi. Dia sungguh sombong di RS. Aku sudah bertemu dia waktu mengantar Jung Ah kemarin.”  Sully langsung ngeloyor pergi ke kamar mandi.
Kini Ommanya malah melongo, sedangkan minho hanya tertawa sambil meringis kesakitan karena sepakan maut di dengkulnya tadi.
***
Usai makan malam dengan saling diam-diaman, kini ibu mengisyaratkan Minho untuk mendekati Sully. Gadis yang kini duduk di ayunan seraya menatap bintang gemintang yang bertebaran di langit.Minho menggerakkan ayunan Sully. Meski sedikit terkejut,tapi Sully juga tak mencegah Minho menghentikannya. Ia mengenang masa kecil itu, bersama Minho yang waktu kecil juga sering mengayun-ayunkannya seperti ini.
“gomawooo….  Sudah datang kemari. “Sully tersenyum pelan.
“Apa kau tak rindu padaku?” kini Minho beralih di depannya, dan mendorong ayunannya lebih kencang.
Air mata sully tak terbendung lagi. Rambutnya perlahan tertiup angin malam. Wush… wush… minho menghentikan ayunan. Kecantikan itu kembali lagi. Lalu memeluk Sully, ia menumpahkan kerinduannya.
“oppaaa….. jeongmal bogoshippo…” sully berbisik di telinga minho.
****
Sejak saat itu, minho kerap mengajak Sully bertemu. Walaupun Jung Ah sudah tidak dirawat di RS itupun, terkadang Sully mengantar gallon ke RS itu dan bertemu Minho.
Hingga suatu siang, Sully sungguh kecewa. Namja yang ia cari tak ia temukan. Nomor hape-nya juga tak aktif. Malahan ia mendengar dari  gossip perawat yang lewat, bahwa dokter tampan idaman mereka itu sedang cuti mempersiapkan pernikahannya. Aaarrrgghhh,,, ia sungguh putus asa. Padahal ia sudah berdandan ala gadis muda lainnya, sangat feminine. Tak seperti hari-hari biasanya. Ia ingin hari itu mengagetkan Minho. Tapi sayang ia sungguh merasa kecewa. Akhirnya dengan hati dongkol ia mengemudikan balik truk galonnya.
Sendirian, uraian air mata tak mampu membendung rasa kecewanya. Dua botol alcohol itu tak membuatnya mempan mabuk. Ia sungguh frustasi. Lalu melanjutkan memilih pulang kembali ke rumah.
***
Di sebuah taman, gadis kumal bertopi itu menunggu dengan gelisah sekaligus kesal.
“Apa dia hanya mau memberiku  harapan palsu lagi?” ia kembali mengecek SMS dari Minho.
From: Minho-Oppa
“Mari kita bertemu di taman biasanya jam 9 pagi besok. 
“Aaahh, sebaiknya aku pulang saja daripada aku kecewa seperti seminggu yang lalu. “ ia bermaksud berbalik. Tapi namja yang membuat impiannya hancur itu malah sudah muncul di depannya.
“Ayo ikut aku.” Minho menggeret lengan Sully.
“Tapi bagaimana dengan mobil galonku?”. Sully menatap mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
“don’t worry. Chagiy. Biar aku yang menanganinya.” Sepupunya sudah muncul dengan merebut kunci mobil di tangan Sully. “pergilah… urus dia dengan baik, Oppa.” Sepupunya genit, sambil mendorong mereka pergi. Sully hanya bingung sendiri. Sepertinya,Minho sudah bersekongkol dengan sepupunya. ‘Dasar, membuatku penasaran saja.’ Batin Sully.
Sepenjang perjalanan, rasa penasaran itu hadir dalam hati Sully. Mau dibawa ke mana ia? Mungkinkah minho ingin memberinya undangan pernikahannya? Atau jangan-jangan malah ia ingin mengenalkan calon istrinya? Bagaimana kalau semua itu terjadi? Bagaimana nanti perasaannya?
Ia hanya memendam berbagai pertanyaan itu dalam hatinya sendiri. Sambil menatap pemandangan jalanan di luar kaca mobilnya. Mereka saling diam, Minho dari tadi juga sangat cuek.
“Kenapa Oppa tak memberitahu kabar itu? Apa aku bagimu tidak penting?”, Sully mencoba memecah keheningan.
“Buat apa kuberi tahu? Bukankah tanpa kuberitahu kau sendiri juga malah sudah tahu?”, Minho cuek sambil konsen menyetir. Membuat Sully serasa ingin meloncat begitu saja dari dalam mobil.
Tiba di sebuah butik, Minho mempersilakan pegawai membawa Sully ke belakang.
“Yha! lakukan seperti apa yang aku perintah tadi. Buat itik jelek ini menjadi angsa yang cantik. Nhe?”
Sekali lagi Sully bingung bukan kepalang. Ternyata orang-orang disitu segera memake-over dirinya habis-habisan. Dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Dengan gaun berwarna coklat muda dan wedges senada ia melangkah terpincang-pincang. Rambut panjangnya sudah dikeriting gantung.  Dia sudah selesai dimake-over. Bebek itu telah menjelma menjadi angsa yang cantik. Tapi, tiba-tiba sekitar menjadi gelap. Seseorang menyekap matanya. Tangannya seperti dituntun seorang namja.
“opp…pa?” ia seperti mengenali tangan itu sebagai tangan Minho.
Minho hanya diam sambil membimbing Sully ke mobil. Dan melarangnya membuka penutup matanya.
“Aku akan mengenalkanmu pada calon istriku….”
“Mwo? Kenapa aku harus berpakaian seperti ini? Ini terlalu berlebihan.”
“Istriku seorang mantan model. Jadi ia sangat cantik dan semampai, tidak sepertimu yang berantakan, Sully..”
Glek!!! Sully menelan ludahnya. ‘Aahh,, bukankah dulu waktu SMA aku juga pernah berdandan seperti ini? Sebagai seorang model? Tak apalah. Ia sadari selama ini tak pernah sempat berurusan dengan kecantikan . Anggap saja kali ini ia menghormati pertemuannya dengan calon istri Oppa ‘ batin Sully sambil menenangkan gejolak di hatinya.
Sedang di sampingnya, Minho hanya tertawa geli.
Mobil berhenti, Minho menuntunnya. Ia lalu mempersilahkan Sully duduk.
Sesaat kemudian, Sully mendengar suara langkah anggun sepatu hak tinggi seorang perempuan.
“apakah calon istrimu sudah datang, Oppa?”
“ya, sekarang, bukalah penutup matamu.  Dia ada di depanmu..”
Sully tak sabar membuka penutup matanya. Agak buram, lalu makin lama makin jelas.
Oopppsss. Sesosok perempuan muda sudah berdiri. Ia berhak tinggi, tapi kenapa? Berpakaian pelayan restoran hotel bintang lima?
“oppa… dia …yeonja-chingumu? calon istrimu?”  Sully membulatkan kedua mata sipitnya.
“anny… lihatlah cermin itu.. dia calon istriku.”
Sully segera menatap cermin yang diletakkan pelayan tadi di meja depannya.
“mana oppa? Tak ada calon istrimu di sini…”. Sully hanya mendapati dirinya seorang di cermin itu. Lalu menoleh ke belakang.  Tak ada siapa-siapa.
“bodoh!” Minho menjitak kepala Sully. “bagaimana mungkin seseorang yang bodoh sepertimu menjadi  dokter?”
Minho segera berjongkok meraih tangan kiri sully, meletakkan cincin permata berkilauan itu di jari manisnya. Lalu ia mencium punggung tangannya.
“Maukah kau menikah denganku, Chagi? Aku sudah menunggu saat-saat ini ….”
Jantungnya sungguh berdegup sangat kencang. Ia salah tingkah. Sejurus kemudian, dua perempuan yang tak lain Omma dan sepupunya datang.
“Terimalah, Sully. Omma sudah menyetujuinya. Sebenarnya, Minho sudah melamarmu pada Omma sejak bertemu ia pertama kali itu.”
Perasaan Sully kini membuncah. Tak ada kata-kata yang kuasa ia ungkapkan,  hanya anggukan halus.
“Gomawo, Chagi….saranghaeo…” Minho merangkulnya erat.

***