BE MINE!
Author: Khoirun Nisa’ (Choir Ni Sa)
Main Cast: Choi Min Ho, Choi Sully.
Genre: Sad, Romance, Medical.
“Oppaa…”,
gadis kecil menghentikan pekerjaannya. “origamiku sudah selesai.”
“Bagaimana caranya Sully? Kenapa kau cepat
sekali?”
“Kemarilah. Kuajari oppa” lalu dengan
lincah gadis kecil itu mengajari anak laki-laki yang lebih tua, yang selalu ia
panggil Oppa sejak kecil.
Beberapa saat kemudian, ibu Minho datang
memintanya untuk segera berpamitan.
“Omma, aku masih ingin sekali bermain
dengan Sully. Kenapa harus pulang sekarang?”
“Sayang, kita harus segera berkemas, appa
sudah menunggu kita.. nhe?”
“Sully, Kapan-kapan kita bermain lagi,
yach? Bye…”, Minho dan ommanya berpamitan.
Sully jadi cemberut karena sahabat kecilnya
itu harus pergi, padahal ia masih ingin bermain dengan Minho oppa-nya.
Minho terus berlalu menjauhi rumah besar
yang ditinggali keluarga Sully. Ia tak berhenti menatapnya. Seakan-akan esok
hari tak akan ada lagi hari di mana ia bisa bermain lagi dengan Sully di rumah itu.
***
Pagi itu, Sully sarapan bersama kedua
orangtuanya seperti biasa. Tapi, tidak biasanya ayah dan ibunya sudah
berpakaian rapi selain karena mereka
berpakaian untuk ke tempat kerja.
“Eomma, kita mau ke mana? Kok sudah
menyuruhku buru-buru .” Tanya Sully penasaran usai menyelesaikan sarapannya.
“Kita akan mengantar keluarga Minho ke
bandara, ayah dan ibunya kan sahabat dekat keluarga kita, mereka akan pindah ke
Amerika sayang.”
“Mwoo? Kenapa oppa tak pernah memberitahuku
omma….” Protes Sully tak percaya.
“Sudah Sully, ayo nanti kita terlambat.”
Appa menghentikan protes Sully.
***
Bandara Incheon, 2001
“Bibi… jangan pergi…!!!!”
“Sayang,..” omma Minho mengelus rambut
panjang Sully yang dikepang dua itu dengan lembut.
“Kami juga sayang sekali padamu, kamu sudah
bibi anggap sebagai anak perempuan bibi sendiri. Tapi harus bagaimana? Bibi dan
Minho harus pindah ke California, karena paman pindah kerja ke sana. Kalau ada
waktu, mainlah ke rumah kami, sayang. Pintu rumah kami akan selalu terbuka
untuk kalian.”
Minho kecil mengusap air matanya. “Sully,
ambillah topi ini..” Minho menyodorkan topi hitam yang dipakainya.
“Ini juga untukmu, oppaa..” Sully
memberikan gelang plastic miliknya, dan memasangkannya di pergelangan Minho.
“Berjanjilah, kita akan bertemu lagi,” dua
sahabat kecil itu saling mengkaitkan kelingking kecil mereka.
Beberapa saat kemudian, pesawat itu telah
lepas landas meninggalkan bandara.
***
Bandara Incheon, 2014.
Namja bermata kodok itu sudah sampai ke Korea
dengan lega.
Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan
bagaimana jika ia bertemu Sully nanti. Ia kini sudah mendapat gelar dokter
spesialisnya lebih cepat. Tak sabar , bermaksud untuk segera bertemu Sully,
sahabat kecilnya, sekaligus adik kelasnya dulu waktu SD. Sudah lama ia hilang
kontak dengan Sully saat ia akan menempuh study kedokteran dulu. Waktu itu ia
ingin konsentrasi dengan sekolahnya. Sedang sully terakhir kali mengiriminya
foto berseragam SMU melalui e-mail. Hanya itu kini bekal Minho mencari yeonja
yang cantik itu. Ia tak tahu kini kabarnya, keluarganya, bagaimana wajahnya,
ataupun menjadi apa ia sekarang. Sully bohong, saat itu ia berjanji akan
mengunjungi Minho. Tapi tiba-tiba setelah terakhir kali kontak, ia sudah tiada
kabarnya lagi.
Minho mencari-cari temannya yang sudah
berjanji menjemputnya. Papan bertuliskan Choi Minho itupun akhirnya ketemu.
Laki-laki putih seusianya itu melambai-lambaikan tangan sekaligus
menghampirinya.
“Aigooo… bagaimana kabarmu Dokter Choi…
sudah sangat lama kita tak bertemu. mereka saling berpelukan.
“Kajja, ayo kita pulang. Ibuku sudah
menunggumu, kawan.”
Mobil terus melaju. Kawan Minho itu tak
berhenti bercerita tentang kehidupannya, hingga Minho bosan mendengarnya, tapi
ia ingin tetap menjadi pendengar yang baik.
“Hei, apakah kau ingat dengan Sully, adik
kelas kita waktu SD itu?”
Agak lama laki-laki itu mengingat gadis
yang disebut Minho. “oh, geure.. gadis cengeng yang rambutnya selalu dikepang
dua itu?? bahkan aku sempat satu SMU dengannya. Waah.. dia menjadi angsa yang
sangat dikagumi anak laki-laki di sekolahku. Selain cerdas, dia juga sempat
menjadi model, lho. Tapi, ia lalu lebih memilih konsen sekolahnya. Kasihan dia…”
“Kasihan bagaimana??? Terus bagaimana
kabarnya sekarang?”
“Itulah, sejak lulus SMU, aku sudah tak
pernah lagi mendengar kabarnya. Tapi yang kudengar terakhir kali. Perusahaan
appanya bangkrut karena sang direktur bunuh diri…”
“Mwo???”
Minho melongo tak percaya. ‘mungkinkah itu menjadi penyebab ia juga
putus kontak dan tak jadi mengunjungiku di Amerika?’
Keesokan harinya. Minho yang masih hafal
jalan menuju rumah Sully yang dahulu itu, terkecoh. Penghuninya kini sudah
berganti. Bukan keluarga Sully lagi. Ia menjadi khawatir sekaligus bingung,
bagaimana nasib yeonja yang selalu ada dalam mimpinya selama ini itu? Apakah ia
menjadi gelandangan sekarang? Ah, tidak. Meskipun perusahaan appanya bangkrut,
tapi Omma Sully dulu masih bekerja
sebagai kepala perawat di sebuah rumah sakit.
Minho segera pergi ke rumah sakit tempat
dulu omma Sully bekerja, tapi juga nihil. Kata salah seorang perawat, ia sudah lama pindah. Ke
sebuah rumah sakit kecil di sebuah desa. Ia bekerja sebagai sukarelawan medis
di sana.
Pikiran Minho menjadi makin kacau. Hari ini
ia lelah. Ia juga masih mengurus pekerjaan barunya di sini, dan harus mencari
keberadaan keluarga Sully. Ia akan mencarinya lagi esok hari.
***
Di rumah sakit swasta ternama di Korea
inilah, Minho memulai pekerjaan barunya sebagai
dokter spesialis anak. Siang itu, ia bermaksud berjalan-jalan di sekitar
rumah sakit setelah lelah habis melakukan operasi dan menangani anak kecil yang
baru kecelakaan di UGD.
Suasana mengejutkan kembali lagi. Ambulans
tiba dengan membawa pasien anak kecil. Sesosok gadis yang kelihatannya tomboy
dan bertopi yang mendampingi anak di ambulans itu terus berteriak-teriak.
“tolong, dia perempuan bernama Shin Jung
Ah, usia delapan tahun, pasien gagal nafas. Sepertinya dia terserang tension
pneumotoraks dengan BO. Kami telah melakukan intubasi, cepat. Dia butuh
novalung dan operasi pneomotoraks…”, gadis bertopi itu berbicara cepat.
Dokter Minho dan dokter jaga lainnya
langsung cepat tanggap memindahkan gadis kecil itu ke bangsal dan melakukan
prosedur alur kerja gawat darurat. Gadis
bertopi itu was-was. “apakah kau walinya?” salah seorang dokter jaga bertanya.
“ya, tadinya dia adalah pasien kami.
Tiba-tiba tadi pingsan setelah berusaha kabur dari klinik. Kami berusaha
menanganinya, tapi karena RS kami tak punya novalung, kami membawanya ke
sini..”. gadis itu menceritakan panjang lebar.
‘oohh,, apakah ia seorang dokter? Gadis
sipit yang bergaya berandalan itu sungguh mengagumkan. Gerak-geriknya seperti
sudah terbiasa menangani pasien.’ batin Minho sekaligus kagum ketika
sekilas mendengarnya. Tapi lalu dia sibuk menangani gadis kecil itu.
“oh, siapa namamu? Kami butuh persetujuan
untuk segera melakukan tindakan operasi…”. Dokter jaga mencatat nama gadis itu.
Minho sudah tak menghiraukannya lagi.
Beberapa saat kemudian, operasi dilakukan.
Gadis bertopi itu duduk di kursi tunggu sendirian. Sekilas, dilihatnya jam
tangan di pergelangannya. Sudah satu jam. Tapi operasi itu belum selesai. Ia
kehausan, lalu memasukkan koin di mesin penyedia minuman kaleng. Lalu memungut
minuman kaleng itu. Meneguk sekaligus sampai habis. Benar-benar gadis tomboy.
Dari mukanya, terlihat ia gadis yang tak
pernah memperhatikan perawatan wajah. Dan tingkah lakunya tak menunjukkan
sedikitpun keanggunan. Minho yang melihatnya usai keluar dari ruang operasi itu
hanya geleng-geleng kepala.
Gadis itu tak sengaja menoleh ke arah pintu
operasi. Dilihatnya dokter tampan itu
sudah menatapnya seraya mengerutkan dahi, heran.
“Hei, gadis. Adikmu sudah selesai
dioperasi. Kau sekarang bisa melihatnya di ruang perawatan.”
“Kamsahamnida, dokter. Kamsahamnida. Telah
menyelamatkan Jung Ah-ku.” Ia membungkuk-bungkukkan badannya, lalu ngeloyor
pergi sambil berlari melesat membelah kelengangan koridor rumah sakit.
***
Esok harinya, Minho yang semalaman dibuat
tak bisa tidur oleh bayangan gadis itu, kini melihatnya lagi di rumah sakit. Di
ruang perawatan gadis kecil Jung Ah.
Tak mengerti, hatinya sungguh
berdebar-debar kencang sekali. Ia gugup di depan pintu. Apalagi sekarang gadis
itu menyadari kehadirannya. Menatapnya sekilas, lalu kembali tersenyum pada
adiknya, Jung Ah yang juga berteriak memanggil namja itu. “Dokter, kemarilah.”
Dengan malu ia menyapa mereka berdua.
“annyyeoong Jung Ah.. bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah mendingan?” sapa
Minho seraya bergaya membetulkan aliran infuse.
Gadis itu terus saja menatapnya. “oh, Dokter…
Minho??” ia memberanikan diri bertanya sambil terdengar suaranya yang gemetar.
Minho terkejut bukan main. Kini ia tak bisa melepas pandangannya ke arah lain,
hanya pada gadis itu. Gadis yang sudah membuatnya tak bisa tidur semalaman.
Membuat jiwanya merekah setelah sekian lama perasaan seperti itu terpendam
dalam pusaran waktu. Ya, ia merasakan perasaan itu kembali.
“Oh, ada apa?” ia menjawab dengan agak
gagap.
“Anniyo, dokter. Terima kasih dokter sudah
mengoperasi Jung Ahku. Jeongmal Gomawo…” gadis itu salah tingkah juga.
‘otteokee… kenapa dia tak ingat padaku?
Ataukah dia pura-pura lupa? Ah, sungguh menyebalkan memendam perasaan ini…’ batin gadis itu sungguh kesal dengan perasaannya sendiri.
“Sama-sama, kalau butuh sesuatu, panggil
saja saya. Nhe?saya dokter yang menanganinya.”
Kakak beradik itu menganggukkan kepala
sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih. Minho pun pergi.
***
Di atas ranjang, Minho yang sudah memakai
pijama tidur tetap tak bisa memejamkan matanya. Merutuk dirinya sendiri. Kenapa
tadi siang dia sangat gugup? Padahal gadis itu sudah berusaha memulai
pembicaraan, bukankah setidaknya ia bisa membalasnya juga dengan ramah seperti
yang biasa ia lakukan selama ini terhadap pasien? Aah. Ia masih bertanya-tanya
pada dirinya sendiri. Dan juga, bukankah tujuannya kembali ke Korea adalah
untuk mencari Sully yang selama ini ia rindukan? Kenapa yang ada justru jatuh
hati pada gadis lain?
“Mwo???” ia terkejut oleh pikirannya
sendiri. Ia mulai memejamkan mata. Meraba-raba lagi ingatannya terhadap wajah
gadis itu. Gadis kumal itu. tidak…!!!!
Ia langsung berlari mengambil foto Sully
saat SMU yang ia taruh di laci. Benar. Ia cocokkan dengan bayangan tadi. Ia
segera menyambar HP dan mengirim sms pada salah satu rekannya di RS, bertanya alamat dari rumah sakit mana pasien
Jung Ah-nya dirujuk.
***
Minggu pagi itu minho libur. Ia sudah sampai
di sebuah RS kecil yang tak begitu ramai di sebuah desa di pinggiran kota
Seoul. Ia bertanya sana-sini pada orang yang bersimpangan dengannya. Di mana
ruang dokter cantik gadis kumal itu.
“Oohh,, maaf anak muda. Dokter Sully kalau
sedang tidak sibuk begini ia bekerja sebagai pengantar gallon. Tapi sore nanti
dia juga sudah pulang. “ ucap nenek yang berpakaian sebagai pasien itu.
Minho kaget setengah mati, kaget mendengar
bahwa itu benar Sully seperti dugaannya, sekaligus ia bekerja sebagai pengantar
air gallon di hari libur. Ia masih tak percaya bahwa ia adalah gadis itu.
Ia masih ingat satu hal. “Maaf nenek.
Apakah di sini juga ada perawat senior bernama Soo Young?”
Tiba-tiba, satu suara menyahut dari arah
sampingnya. “oohh, itu saya sendiri. Maaf, anak muda ini siapa nek? Silakan
kembali ke ruanganmu nenek. Kau harus istirahat. Silahkan kau tunggu aku di
ruang perawat sebelah sana. “ wanita paruh baya itu menunjukkan sebuah ruang di
ujung lorong.
Minho segera menuruti perintah wanita yang
ia yakini ibunya Sully itu. Tak lama kemudian, wanita itu datang dengan dua
gelas kopi di tangannya, menyodorkan salah satunya pada Minho, namja tamunya
yang sedang diintip banyak perempuan di luar ruang perawat itu.
Sesaat, Minho membungkukkan badan
mengucapkan terima kasih dengan sopan. Kemudian ia memperkenalkan dirinya
secara langsung. Seketika itu juga ibu Soo young yang sudah belasan tahun tak
bertemu dengannya itu sangat terkejut. Segera ia merangkul putra sahabat
lamanya itu.
“Bagaimana kabar ayah dan ibumu, Minho? Dan
sekarang apa pekerjaanmu?” kini
perbincangan mereka menjadi lebih akrab.
Minho kemudian menceritakan tentang orang
tuanya di Amerika yang juga bekerja di bidang medis. Sedangkan ia memberitahu
bahwa ia sendiri sekarang sudah bekerja sebagai dokter di RS di Korea dan mulai
mencari tempat tinggal sendiri.
“oh, ibu. Ngomong-ngomong. Bagaimana kabar
Sully sekarang? Sejak saya akan masuk kedokteran, saya putus kontak dengan
Sully.” Minho tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya sedari tadi.
Agak lama ibu Sully tak menjawab. Air
matanya menetes satu persatu. Minho segera menyodorkan sapu tangannya.
“Cerita tentang Sully mungkin takkan
terbayangkan olehmu, nak. Saat Sully kelas dua SMU, suamiku.. ditemukan
meninggal di meja kantornya, diduga karena bunuh diri. Ditambah lagi ternyata
perusahaan mengalami kerugian dan menanggung hutang yang sangat banyak,
akhirnya dengan pasrah rumah dan seluruh asset kekayaan keluarga kami disita
demi menanggung hutang dan gaji pegawai. Saya waktu itu sungguh frustasi,
Minho. Apalagi Sully masih sekolah, saya memutuskan untuk kembali ke kampung
halaman saya di sini, sedang Sully mencari rumah kost di kota, belajar keras
dan kerja paruh waktu sebisanya.
Kehidupan yang ia alami begitu keras, nak. Tapi ia tak mengenal kata putus asa.
Katanya, ia ingin menjadi dokter dan menyusulmu di Amerika sesuai janjinya.
Tapi, sampai sekarang, justru ia sampai lupa dengan mimpinya itu, ia lebih
memilih setelah lulus kedokteran bekerja sebagai dokter umum membantu para
dokter senior di sini. Ia memilih menghidupi dirinya sendiri mencari uang
dengan menemani sepupunya sebagai pengantar air setiap kali ia ada waktu
senggang seperti ini…”
Mata minho tak berkedip sama sekali. Ia
menunduk membayangkan garis hidup Sully yang begitu sulit ia sendiri bayangkan.
Yeonja yang ia sadari sangat ia cintai, mengubur mimpinya sendiri untuk bertemu
dengannya.
Minho tak mau terus larut dalam duka. Ia
kemudian menatap Soo Young lekat-lekat.
“Bolehkah aku memanggilmu Omma, bu?”
Soo young menunduk pelan, tersenyum seraya
mengusap air matanya. Minho merangkul wanita paruh baya itu. “Bukankah sejak
kecil dahulu saya sering sekali main dengan Sully di rumahmu? Dan keluarga kita
sangat dekat, bu? Keluargamu sejak dulu banyak sekali membantu kami. Jangan menangis, bu.. anggap saja saya anak ibu… “
***
Hari telah merangkak menuju senja. Truk
gallon itu berhenti di depan rumah. Lalu
turun sosok gadis lincah dan kumal itu lalu melambai-lambaikan tangan menatap
truk gallon pengantarnya yang kemudian berlalu pergi.
Gadis kumal itu terkejut. Di kamarnya,
sesosok namja bermata kodok sudah duduk di tepi ranjangnya.
“Benar-benar. Apa kau baru membantu truk
pengangkut sampah? Badanmu sungguh bau.. baru kali ini aku melihat gadis sekumal
dirimu…”, namja itu menggerutu.
Gadis yang bernama Sully itu masih melongo
tak percaya. Lalu dengan tak sabar menyepak lutut namja bermata kodok itu,
gesit.
“yha! Jangan berani-berani kau, ya? Dokter
Minho? Punya hak apa kau mengata-ngataiku dan masuk kamarku sembarangan? Dasar
sombong. Keluar!!!”
“ommaaa…. Usir pria ini keluar. Tak sopan
sekali.” Ibu yang sedang menyiapkan
makan malam itu hanya tersenyum geli melihat anak gadisnya.
“Kau tak ingat? Dia Choi Minho…. Yang dulu
kau panggil Oppa….” Omma bermaksud
mengingatkannya.
“tak usah diceritakan lagi. Dia sungguh
sombong di RS. Aku sudah bertemu dia waktu mengantar Jung Ah kemarin.” Sully langsung ngeloyor pergi ke kamar mandi.
Kini Ommanya malah melongo, sedangkan minho
hanya tertawa sambil meringis kesakitan karena sepakan maut di dengkulnya tadi.
***
Usai makan malam dengan saling diam-diaman,
kini ibu mengisyaratkan Minho untuk mendekati Sully. Gadis yang kini duduk di
ayunan seraya menatap bintang gemintang yang bertebaran di langit.Minho
menggerakkan ayunan Sully. Meski sedikit terkejut,tapi Sully juga tak mencegah
Minho menghentikannya. Ia mengenang masa kecil itu, bersama Minho yang waktu
kecil juga sering mengayun-ayunkannya seperti ini.
“gomawooo….
Sudah datang kemari. “Sully tersenyum pelan.
“Apa kau tak rindu padaku?” kini Minho
beralih di depannya, dan mendorong ayunannya lebih kencang.
Air mata sully tak terbendung lagi.
Rambutnya perlahan tertiup angin malam. Wush… wush… minho menghentikan ayunan.
Kecantikan itu kembali lagi. Lalu memeluk Sully, ia menumpahkan kerinduannya.
“oppaaa….. jeongmal bogoshippo…” sully
berbisik di telinga minho.
****
Sejak saat itu, minho kerap mengajak Sully
bertemu. Walaupun Jung Ah sudah tidak dirawat di RS itupun, terkadang Sully
mengantar gallon ke RS itu dan bertemu Minho.
Hingga suatu siang, Sully sungguh kecewa.
Namja yang ia cari tak ia temukan. Nomor hape-nya juga tak aktif. Malahan ia
mendengar dari gossip perawat yang
lewat, bahwa dokter tampan idaman mereka itu sedang cuti mempersiapkan
pernikahannya. Aaarrrgghhh,,, ia sungguh putus asa. Padahal ia sudah berdandan
ala gadis muda lainnya, sangat feminine. Tak seperti hari-hari biasanya. Ia
ingin hari itu mengagetkan Minho. Tapi sayang ia sungguh merasa kecewa.
Akhirnya dengan hati dongkol ia mengemudikan balik truk galonnya.
Sendirian, uraian air mata tak mampu
membendung rasa kecewanya. Dua botol alcohol itu tak membuatnya mempan mabuk.
Ia sungguh frustasi. Lalu melanjutkan memilih pulang kembali ke rumah.
***
Di sebuah taman, gadis kumal bertopi itu
menunggu dengan gelisah sekaligus kesal.
“Apa dia hanya mau memberiku harapan palsu lagi?” ia kembali mengecek SMS
dari Minho.
From: Minho-Oppa
“Mari kita bertemu di taman biasanya jam 9 pagi
besok. “
“Aaahh, sebaiknya aku pulang saja daripada
aku kecewa seperti seminggu yang lalu. “ ia bermaksud berbalik. Tapi namja yang
membuat impiannya hancur itu malah sudah muncul di depannya.
“Ayo ikut aku.” Minho menggeret lengan
Sully.
“Tapi bagaimana dengan mobil galonku?”.
Sully menatap mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
“don’t worry. Chagiy. Biar aku yang
menanganinya.” Sepupunya sudah muncul dengan merebut kunci mobil di tangan
Sully. “pergilah… urus dia dengan baik, Oppa.” Sepupunya genit, sambil
mendorong mereka pergi. Sully hanya bingung sendiri. Sepertinya,Minho sudah
bersekongkol dengan sepupunya. ‘Dasar, membuatku penasaran saja.’ Batin Sully.
Sepenjang perjalanan, rasa penasaran itu
hadir dalam hati Sully. Mau dibawa ke mana ia? Mungkinkah minho ingin
memberinya undangan pernikahannya? Atau jangan-jangan malah ia ingin
mengenalkan calon istrinya? Bagaimana kalau semua itu terjadi? Bagaimana nanti
perasaannya?
Ia hanya memendam berbagai pertanyaan itu
dalam hatinya sendiri. Sambil menatap pemandangan jalanan di luar kaca
mobilnya. Mereka saling diam, Minho dari tadi juga sangat cuek.
“Kenapa Oppa tak memberitahu kabar itu? Apa
aku bagimu tidak penting?”, Sully mencoba memecah keheningan.
“Buat apa kuberi tahu? Bukankah tanpa kuberitahu
kau sendiri juga malah sudah tahu?”, Minho cuek sambil konsen menyetir. Membuat
Sully serasa ingin meloncat begitu saja dari dalam mobil.
Tiba di sebuah butik, Minho mempersilakan
pegawai membawa Sully ke belakang.
“Yha! lakukan seperti apa yang aku perintah
tadi. Buat itik jelek ini menjadi angsa yang cantik. Nhe?”
Sekali lagi Sully bingung bukan kepalang.
Ternyata orang-orang disitu segera memake-over dirinya habis-habisan. Dari
ujung kaki sampai ujung rambut.
Dengan gaun berwarna coklat muda dan wedges
senada ia melangkah terpincang-pincang. Rambut panjangnya sudah dikeriting
gantung. Dia sudah selesai dimake-over.
Bebek itu telah menjelma menjadi angsa yang cantik. Tapi, tiba-tiba sekitar
menjadi gelap. Seseorang menyekap matanya. Tangannya seperti dituntun seorang
namja.
“opp…pa?” ia seperti mengenali tangan itu
sebagai tangan Minho.
Minho hanya diam sambil membimbing Sully ke
mobil. Dan melarangnya membuka penutup matanya.
“Aku akan mengenalkanmu pada calon istriku….”
“Mwo? Kenapa aku harus berpakaian seperti
ini? Ini terlalu berlebihan.”
“Istriku seorang mantan model. Jadi ia
sangat cantik dan semampai, tidak sepertimu yang berantakan, Sully..”
Glek!!! Sully menelan ludahnya. ‘Aahh,,
bukankah dulu waktu SMA aku juga pernah berdandan seperti ini? Sebagai seorang
model? Tak apalah. Ia sadari selama ini tak pernah sempat berurusan dengan
kecantikan . Anggap saja kali ini ia menghormati pertemuannya dengan calon
istri Oppa ‘ batin Sully sambil menenangkan gejolak di hatinya.
Sedang di sampingnya, Minho hanya tertawa
geli.
Mobil berhenti, Minho menuntunnya. Ia lalu
mempersilahkan Sully duduk.
Sesaat kemudian, Sully mendengar suara
langkah anggun sepatu hak tinggi seorang perempuan.
“apakah calon istrimu sudah datang, Oppa?”
“ya, sekarang, bukalah penutup matamu. Dia ada di depanmu..”
Sully tak sabar membuka penutup matanya.
Agak buram, lalu makin lama makin jelas.
Oopppsss. Sesosok perempuan muda sudah
berdiri. Ia berhak tinggi, tapi kenapa? Berpakaian pelayan restoran hotel bintang
lima?
“oppa… dia …yeonja-chingumu? calon
istrimu?” Sully membulatkan kedua mata
sipitnya.
“anny… lihatlah cermin itu.. dia calon
istriku.”
Sully segera menatap cermin yang diletakkan
pelayan tadi di meja depannya.
“mana oppa? Tak ada calon istrimu di
sini…”. Sully hanya mendapati dirinya seorang di cermin itu. Lalu menoleh ke
belakang. Tak ada siapa-siapa.
“bodoh!” Minho menjitak kepala Sully.
“bagaimana mungkin seseorang yang bodoh sepertimu menjadi dokter?”
Minho segera berjongkok meraih tangan kiri
sully, meletakkan cincin permata berkilauan itu di jari manisnya. Lalu ia
mencium punggung tangannya.
“Maukah kau menikah denganku, Chagi? Aku
sudah menunggu saat-saat ini ….”
Jantungnya sungguh berdegup sangat kencang.
Ia salah tingkah. Sejurus kemudian, dua perempuan yang tak lain Omma dan
sepupunya datang.
“Terimalah, Sully. Omma sudah
menyetujuinya. Sebenarnya, Minho sudah melamarmu pada Omma sejak bertemu ia
pertama kali itu.”
Perasaan Sully kini membuncah. Tak ada
kata-kata yang kuasa ia ungkapkan, hanya
anggukan halus.
“Gomawo, Chagi….saranghaeo…” Minho merangkulnya
erat.
***