awalnya aku tak begitu mengenal dunia 'hallyu' .... aku hanya gadis awam yang tak tahu menahu tentang entertanit, khususnya yang berasal dari luar negeri.
semenjak ada laptop dan gadget, dan aku bisa bebas mengakses apapun yang aku mau, sampailah aku pada taraf hiper ketagihan kalau aku sedetik aja gak menyimak tentang hallyu ...
entah drakor, musik, dance, sampai gosip kehidupan pribadi artis-artisnya ...
sampai sekarang pun aku tak bisa memungkiri kalau aku masih menyukai hallyu ... masih ngefans artis-artis korea ... rajin nonton drakor, ... budaya mereka, fashion, dan musiknya ....
tapi, aku sangat kecewa dengan seorang bias yang dulu kugandrungi ...
seorang public figure yang dulu memiliki image cute dan polosnya. memiliki banyak talenta, periang, cantik apa adanya tanpa oplas, dan hmm pokoknya perfect apalagi saat dia disatuin main bareng di sebuah drama bareng seorang labelmate-nya...
aahhh ... benar-benar citra sempurna seorang idol. sampai aku tidak bosan menyimak kehidupan pribadinya ... sampai aku kerap menulis ff tentang dia ... sampai terbawa mimpi ketemu dia ... sampai berharap mimpi itu menjadi kenyataan ...
ahh sekarang apa daya ... biasku telah berubah. image-nya yang innocent kini mulai luntur seiring dengan postingan dan berita-berita miring tentangnya.
andai saja biasku itu juga mengenalku, ingin kunasehati untuk memperbaiki hidupnya ...
apalah daya ... nasib fangirl tinggal nasib ... siapa dia siapa aku ...
dia sudah memilih untuk menjadi seperti itu ...
aku hanya ingin tulus berdoa semoga kau mendapatkan yang terbaik untuk hidupmu ... semoga aku pun baik-baik saja walau aku sudah tidak lagi menjadi fans-mu.
selamat tinggal ... kau ... yang pernah ada dalam anganku .. khayalku ... dan kini semuanya tlah berlalu ...
kau memiliki hidupmu ... dan aku memiliki hidupku ....
Selasa, 05 April 2016
Rabu, 30 Desember 2015
Fanfiction Minsul couple againn
My Sleepy Princess
Author : Choi Runnisa
Maincast : Choi Minho, Choi Jinri, Kim
Dayoung (as Jimin, Minho dan Jinri’s child)
Genre : Romance, sad, family
Length : Oneshoot

Suara sorak sorai dan tepuk tangan membahana di seluruh penjuru
aula. Aku adalah salah seorang yang paling bersemangat berdiri dan memberi
tepuk tangan keras-keras. Gadis kecil bergaun putih selutut itu melompat-lompat
di atas panggung sambil mengacung-acungkan piala ke atas dengan kedua
tangannya.
Dan saat acara usai, dia berlari menyongsong ke arahku dan kubalas
dengan pelukan erat sekali.
“Jimin-ah …. Appa bangga padamu sayang….”
“Appa jangan terlalu kencang memelukku, nanti pialaku rusak …”
aduhnya dengan suara cempreng.
Aku mengendorkan pelukan. Sambil menyeka air mataku yang membasahi
pipi dengan punggung tangan.
“Appa menangis?” tanyanya dengan melebarkan matanya. Dia memang
gadis yang mewarisi mata beloku.
“Tidak. Kajja, kita pulang.” Aku bangkit berdiri dan kami berjalan
beriringan menuju tempat parkir.
Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, dia terus bersiul-siul
ria. Sebelah tanganku digenggamnya sambil diayun-ayunkan, dia juga
melompat-lompat kecil sepanjang jalan.
“Hati-hati Jimin … nanti
jatuh …” omelku karena si lincah ini memakai sepatu kaca yang agak
tinggi.
“Appa, nanti kalau aku jatuh dan sepatunya lepas. Apakah akan ada
pangeran yang menemukannya?”
Ia menghentikan langkahnya membuatku juga berhenti. “Pangeran?”
“Ya, kata eomma, Cinderella sepatunya lepas saat pesta …”
Aku menepuk jidatku sambil tersenyum geli. “Pasti appa yang akan
mengambil sepatumu.”
“Kok appa? wae?” protesnya.
“Bukankah appa yang sedang bersama princess appa sekarang?”
“Andwe … pangeranku pasti tampan. Pasti bukan appa …” dia
mempoutkan bibirnya.
“Mwo??? dasar gadis nakal.” Aku mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
Dia berteriak-teriak minta diturunkan.
***
Dia meletakkan piala besar itu di nakas samping ranjang. lalu megecup
pipi tirus itu lama sekali. Ia menatap
wajah tak berdaya milik ibunya dalam diam. Lalu beringsut duduk di pangkuanku.
Ia menatap lekat-lekat saat tanganku meremas lembut jemari ibunya.
“Jinri …” sambutku pada istriku. Hari ini aku mengunjunginya lagi
seperti biasanya. namun kali ini lebih terlambat karena aku baru menjenguknya
di siang hari, dengan membawa serta Jimin yang ingin memberi hadiah special
untuk ibunya. Jarang sekali aku membawa serta dia karena aku pun tahu rumah
sakit bukan tempat untuk anak kecil. Namun hari ini aku memenuhi janji untuk
putri kecil kami yang sudah satu bulan lebih tidak bertemu dengan ibunya.
“Eomma …” timpal JImin. “Bangun eomma …” tangan kecilnya
mengguncang lengan ibunya.
Wanita itu tetap diam. Jimin muram karena ibunya selalu diam.
“eomma suka sekali tidur.” Gerutunya kesal. Aku mengelus rambut
anakku yang hitam panjang dengan perasaan teriris. Bagaimana perasaanmu melihat
gadis kecil yang polos ini selalu memanggil ibunya yang sudah lama tidak
bangun?
“Di sini ada anak kita, sayang … dia merindukanmu ….” Aku mencoba
mengeluarkan kalimat bujukan yang tentu saja itu sia-sia. Aku sudah tidak tahu
harus bagaimana lagi. kami hanya menunggu keajaiban Tuhan untuk bangunnya peri
cantik kami.
“Jinri … di sampingmu, ada piala anakmu … dia menghadiahkannya
untukmu. Jimin sudah menepati janjinya. Hari ini dia sengaja ikut datang hanya
untuk bertemu dirimu … tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih untuknya?
Tidakkah kau ingin memeluknya?”
“Jinri … hari ini dia bernyanyi dan bermain piano dengan sangat
merdu dan indah sekali. Lagu yang dibawakannya adalah ‘twinkle-twinkle little star’ yang selalu
kalian nyanyikan. Apakah kau mendengarku, sayang?”
“Jinri … kemarin aku mengukur tinggi anak kita …. Sudah bertambah
dua sentimeter hanya dalam waktu satu bulan. Dia paling tinggi di kelasnya …
apakah itu berarti aku sudah mengganti peranmu dengan baik dengan memberi gizi
yang cukup untuknya? Kau ingat bukan kau orang yang paling rewel dalam
memperhatikan perkembangan Jimin …”
“Jinri … maafkan aku. Selama ini aku meremehkan peranmu dalam
menjalani tugasmu. Ternyata aku belum sanggup menjadi ayah yang baik untuknya.
Bahkan kemarin aku tidak tahu cara membuat kimbap untuk piknik di sekolahnya.
Untunglah neneknya bersedia datang ke rumah kita. Dia membuat banyak kimbap
untuk Jimin. Aku pun juga membawanya beberapa untuk bekalku di kantor. Tapi ….
Saat memakannya. Aku merasa sulit menelannya. Masih enak masakanmu sayang. Aku
merindukan olahan tanganmu sendiri…”
“Jinri … berulang kali aku tidak bosan menyebut namamu … bosankah
kau mendengarnya? apakah aku terlalu banyak mengoceh? Maafkan aku. Aku tidak
akan marah bila nanti kau mencubit lenganku seperti dulu saat kau kesal padaku.
Jinri … sejak kau tidur lama sekali …. Aku merasa menjadi manusia yang seratus
kali lebih banyak bicara daripada diriku yang dulu, karena kau membuatku
jengkel dengan diammu…. Nanti kalau kau bangun … kuharap rumah kita akan penuh
dengan tawa lagi. anak kita juga mewarisi sifat bawelmu ….”
“Jinri …. Aku selalu memohon pada Tuhan untuk memberi kita
kesempatan kedua agar dapat bersama-sama lagi seperti dulu. Aku sungguh
mencintaimu …”
Tak terasa air mataku menetes saat mengucapkan kalimat yang
terakhir itu. hatiku seperti diremas-remas kala mengingat kemungkinan kecil dia
tetap bertahan untukku.
Cara dia tertawa, tersenyum, marah, omelannya, semuanya kini begitu
kurindukan. Belaian lembutnya adalah penawar mujarab untuk mengobati gundah
hatiku. Suara merdunya dan denting pianonya di sudut rumah kami, adalah melodi
yang tidak bisa kuhapus dalam memoriku.
Segala kebersamaan terindah yang kami rangkai sejak sebelum menikah
sampai sekarang, berputar dalam benakku seperti slide film yang diputar
berulang-ulang. Terus menerus hingga memukul perasaanku. Membuat penyesalanku
semakin datang bergulung-gulung bagai debur ombak yang tidak bisa berhenti.
Tidak jarang aku merasa kesal karena dia terlalu memperhatikan anak
kami daripada aku. Tidak jarang aku mengacuhkannya saat dia minta tolong
sesuatu dan aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Tidak jarang pula aku tidak
membalas pesan-pesannya untuk sekedar memperhatikan diriku seperti makan dan
istirahat.
Kini saat rumah selalu dalam keadaan kosong, aku menyadari bahwa
dialah malaikat yang dikirimkan Tuhan dalam hidupku.
Dia mengalami cedera otak berat karena kecelakaan bus saat
mengikuti darmawisata sekolah tempatnya selama ini mengajar. Berturut-turut
para korban lain yang sempat mengalami luka berat masuk ICU sudah dipanggil
oleh-Nya. Hanya Jinri yang masih bertahan bahkan hingga satu bulan lebih.
Aku masih menunggunya. Aku tidak peduli pada kemungkinan kecil itu.
sekecil apapun kemungkinan ia akan bangun lagi, aku tetap berharap dia hadir
lagi pada kehidupan kami. tak bisa kubayangkan JImin akan kehilangan ibunya di
usianya yang masih sangat kecil. Anakku belum mengerti apa-apa.
Aku tak akan meminta apapun pada Tuhan dalam doa-doaku selain agar
malaikat kami kembali. Aku menerima apapun keadaan Jinri. Meskipun
pengorbananku nantinya tidak sebanding dengan kesalahan yang telah kulalukan di
masa lalu. namun setidaknya aku akan menerima Jinri apapun keadaannya nanti.
Sekali lagi asalkan malaikat kami kembali.
***
100 hari koma …
Gadis kecilku merengek lagi minta ikut menjenguk ibunya. Namun ada
yang aneh dengan sikapnya. Dia membawa sebuah buku dongeng bergambar yang
dibelikan neneknya. Katanya, buku itu adalah petunjuk untuk menyembuhkan
ibunya.
Awalnya aku geli dengan sikap konyol Jimin. Gadis kecilku yang
masih TK itu selalu saja membuat ulah yang aneh-aneh. kata orang rumah, sudah
sejak seminggu lalu dia membaca dongeng itu keras-keras sebelum tidur, dengan
meminta siapapun orang yang ada di rumah untuk menyimak bacaannya. Sayang
sekali aku tidak bisa ada di sampingnya membaca cerita karena aku baru saja
pulang dari luar negeri untuk sebuah proyek kantorku yang tidak bisa
ditangguhkan.
Tapi di hari tidur ke seratus ibunya ini aku sudah berjanji untuk
menemaninya, mendengar ia bercerita untuk ibunya. Kata eomma, dia sudah sangat
lancar membaca.
Dengan antusias kami duduk di samping ranjang Jinri.
“Eoh, appa. pakaikan ini di rambut eomma.” pintanya sambil
menyodorkan mahkota kecil dari plastic padaku. Aku hanya menurut padanya.
tubuhnya masih terlalu pendek untuk meraih kepala ibunya. Aku hanya meletakkan
mahkota itu di atas kepala Jinri, karena kepalanya dibebat perban.
“Eomma, hari ini eomma menjadi tuan putri dan appa menjadi
pangerannya…. ” Serunya bersemangat. “Eomma, appa …. dengarkan Jimin, ne?”
“dahulu kala, hiduplah raja dan raja dan ratu yang sangat baik
hati, setelah bertahun-tahun menanti, akhirnya ratu melahirkan seorang bayi
perempuan. Kelahiran bayi itu dirayakan. Enam peri baik hati datang pada
perayaan istana. Tetapi raja lupa mengundang seorang peri ke tujuh yang sangat
jahat dan kejam. Lima peri baik hati masing-masing memberi hadiah untuk sang
bayi. Ketika peri ke enam hendak mengucapkan permintaannya untuk putri,
tiba-tiba peri yang jahat muncul dengan wajah marah. “Sang putri akan mati,”
kata peri jahat. “jari putri akan tertusuk jarum pintal”. “tidak”, kata peri ke
enam. “Aku beri hadiah agar putri tidak mati, melainkan tidur selama seratus
tahun”. Sang ratu menangis dan raja berteriak marah. “Semua mesin pintal di
kerajaan ini harus dibakar dan dimusnahkan,” kata raja. “maka jari putriku
tidak akan pernah tertusuk oleh jarum mesin pintal”. Waktu berlalu, sang putri
tumbuh dewasa di istana, saat umurnya tujuh belas tahun, sang putri merayakan
ulang tahunnya yang amat meriah. Tapi lagi-lagi, mereka lupa mengundang peri
jahat. Hari berikutnya, sang putri menemukan tangga rahasia di dalam istana.
Tangga itu membawanya ke sebuah ruangan yang tersembunyi. Di dalam ruangan itu,
ada seorang nenek duduk di depan mesin pintal. Sang putri tidak tahu nenek itu
adalah peri jahat yang sedang menyamar. Putri menyapa nenek itu, lalu nenek itu
mengajaknya untuk menunjukkan mesin pintalnya. Nenek alias peri jahat menusukkan
jarum ke jari sang putri. Dan seketika sang putri tertidur. Semua penghuni
istana pun tertidur. Keenam peri menjaga istana itu dengan baik hingga seratus
tahun lamanya. Tidak ada yang bergerak dalam istana itu. hingga sekeliling
istana ditumbuhi hutan lebat. Hingga suatu hari, datanglah pangeran muda. Ia
bertanya pada seorang kakek tua tentang istana itu. sang pangeran pun
melanjutkan perjalanan ke istana. Pepohonan membuka seakan menuntun sang
pangeran masuk ke dalam istana. Semuanya hening. Ia berjalan melewati tangga
dan menemukan putri yang tertidur. Sang putri Nampak begitu jelita. Sang
pangeran kemudian menciumnya dengan lembut. Putri pun perlahan membuka matanya
dan tersenyum.” Akhirnya, seorang pangeran tampan datang menyelamatkanku,”
katanya. Semua yang ada di istana ikut bangun. Raja pun mengadakan pesta, putri
dan pangeran akhirnya menikah dan bahagia selamanyaa…”
Aku memberi tepukan ringan dan mencium pipi tembam putriku dengan
rasa haru dan bangga. Namun dia malah cemberut dan mendorongku. “Seharusnya
pangeran mencium tuan putrii …” protesnya. “Appa … appa harus mencium eomma
supaya eomma cepat bangun …” rengeknya lagi.
Aku tertegun beberapa saat mendengar ucapan putriku. “Appa
palliwaa… pallii …” dia terus mendesakku.
Kudekatkan wajahku ke wajah pucat Jinri. Dia terlihat damai dalam
tidurnya. “Maafkan aku sayang, aku mengganggu tidurmu. Tapi kali ini kau
harus bangun demi kami. Kau harus bangun.” Bisikku dalam hati. Entah
mengapa kali ini tiba-tiba aku begitu percaya dengan dongeng yang dibawakan
Jimin.
Ku tempelkan bibirku di dahinya. Kukecup cukup lama sambil
berlinangan air mata. Aku memejamkan mataku membayangkan ciumanku di dahinya
saat menikah dulu. Aku tidak mungkin mencium bibirnya sekarang karena bibir dan
hidungnya tertutup alat bantu pernafasan. Kecupan di dahi sudah mewakili
seluruh perasaanku padanya.
Tiba-tiba Jimin berteriak hingga membuyarkan lamunanku. “Appa
…eomma menangis … eomma menangis …”
Sontak jantungku seperti meloncat. Rasa lega, senang, haru,
bercampur menjadi satu. Kami melihat sendiri betapa air mata Jinri mengalir
dari kedua ujung kelopak matanya.
Aku ikut menangis bahagia sambil memeluknya. Lalu mengecup dahinya
sekali lagi.
Jimin dengan tingkahnya yang lugu ikut meneteskan air mata
tersedu-sedu, sambil menghapus air mata ibunya dengan tissue. “Eomma …” ucapnya
lirih.
Hanya sekejap kami menangis haru, tiba-tiba alat pendeteksi detak
jantung berbunyi nyaring dengan angka dan berbagai lambang di dalamnya
berkedip-kedip. Seketika aku merasa panic dan melihat napas Jinri yang sudah
bersuara seperti pompa ban manual itu.
Mataku langsung terasa menggelap. Beberapa orang dokter dan perawat
segera berhambur datang dan menyuruh kami keluar. salah seorang dokter berucap
“kode blue …” aku tak mengerti apa arti kata-kata itu. namun yang jelas, aku
sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi setelah itu. Jimin berteriak histeris,
namun aku dengan susah payah berhasil membopongnya keluar.
Seketika tubuhku lemas. Di dalam sana, suasana tegang dan panik.
Tubuh kami melorot ke lantai keramik rumah sakit yang dingin. Jimin memelukku
sambil menangis, namun aku tidak sanggup membalas pelukannya karena tubuhku tak
memiliki daya apa-apa lagi.
***
Dua belas tahun kemudian … musim dingin di Seoul ….
“Presdir Choi, ada
kiriman untuk anda.” Kata sekretarisku. Aku menyuruhnya meletakkan box paket
kiriman kilat itu di meja tamu.
Beberapa menit kemudian, aku meregangkan tubuhku yang sudah terasa
pegal-pegal. Beberapa tumpuk file sudah kutanda-tangani dan kini saatnya aku
memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mungkin inilah efek dari tubuh yang
sudah mulai senja. Umurku sudah menginjak 40-an. Dan apalagi Jimin putriku sudah
meninggalkanku selama satu semester ini untuk berkuliah di luar negeri.
Kubuka paketan itu, sebuah kartu pos bergambar patung liberty
menyembul terlebih dulu.
“Appa, sudah sampaikah kirimannya padamu? Mianhae, appa. mungkin
pemberianku tidak mahal. Lagipula ini kan juga paket pertama yang kukirimkan
padamu? Sayang sekali bukan kalau aku langsung mengirim kado mahal tapi tidak
sampai? LOL xD. Sekarang musim dingin, mungkin ini hanya syal sederhana. tapi
di sana sudah ada seribu kehangatan dariku untuk appa. Saengil Chukka hamnida
appa …. Oh ya…. Tunggu aku appa. aku akan pulang saat liburan musim panas
tiba.”
Aku tersenyum haru. Kupungut Syal itu lalu kukalungkan di leherku.
Tetes demi tetes salju telah terlihat turun di luar jendela kantor. Ini salju
pertamaku tanpa kehadiran Jimin. Dulu saat Jimin masih ada di sisiku, hidupku
tak senelangsa ini.
Hidupku benar-benar sepi. Apalagi saat aku sendirian seperti ini.
Rasa rindu benar-benar menyengat hatiku. Aku masih harus menunggu kepulangan
putriku beberapa bulan lagi saat musim panas tiba. ahh masih lama sekali.
Bosan menatap rintik-rintik salju di pinggir jendela kantor, aku
menyalakan laptop dan menonton video rekaman kami bertiga dulu. Kehangatan yang
masih utuh saat ada ‘dia’. Saat dia tertawa sambil menekan tuts-tuts piano dan
membimbing Jimin bernyanyi. Saat aku dengan serunya merekam detik demi detik
momen yang benar-benar penuh keceriaan dan tawa. Lalu saat dia perform dalam
sebuah pagelaran musiknya. Dengan gaun putih selututnya yang anggun, dia
menyihir seluruh ribuan pasang mata dan telinga yang mendengar permainannya. Video
terakhir yang tak sanggup kutonton, saat dia meniup lilin ulang tahunnya yang
terakhir, dua belas tahun yang lalu … matanya yang berkaca-kaca di bawah
temaram lampu taman. Dan juga aku dengan wajah konyol mencolek krim kue tart ke
pipinya. Kami berdua duduk di bawah lampu taman, di tengah malam tanpa ada siapa-siapa termasuk Jimin kami
karena dia sudah tertidur. Tak kusangka itulah rekaman romantisme terakhir
kami. Satu minggu sebelum kecelakaan itu membuatnya menjadi putri tidur untuk
selamanya.
Beberapa bulan
kemudian, musim panas di Seoul ….
“Appa …”
teriaknya. Dia meninggalkan kopernya dan berlari ke arahku.
Tubuhku mematung. Gadis tinggi semampai dan berpipi tirus itu
berlari ke arahku. Jantungku berdetak lebih kencang. Dia benar-benar duplikat
Jinri. Caranya berlari, memelukku, kulit putihnya, wajahnya, rambutnya, hanya
mata belo-nya lah yang menyadarkanku bahwa sekarang ini dia adalah putriku.
“Apa kabar…,
nak??” tanyaku tersendat. Air mataku menetes karena buncahan rasa rindu. Aku
mencium keningnya lama.
Kami pun pulang
meninggalkan area terminal kedatangan bandara Incheon sambil bergandengan
tangan.
Jimin sudah
berjanji akan menyempatkan pulang walau hanya satu tahun sekali. Hidup kami
terus berlanjut walau tanpa kehadiran ‘dia’. Walau dongeng putri tidur tidak
menjadi kenyataan dalam kehidupan kami, setidaknya aku dan putriku masih
mencintai ‘dia’. Hingga aku sampai hari ini pun tak pernah bisa menemukan
penggantinya. Hidup ini hanya sementara. Tuhan yang memiliki rencana indah di
luar kuasa kita. Walau 'dia’ sudah tiada lagi di sisi kami, namun cintanya yang
begitu indah masih menjadi hal yang tak bisa terganti.
~THE END~
Minggu, 10 Agustus 2014
my first fanfiction
BE MINE!
Author: Khoirun Nisa’ (Choir Ni Sa)
Main Cast: Choi Min Ho, Choi Sully.
Genre: Sad, Romance, Medical.
“Oppaa…”,
gadis kecil menghentikan pekerjaannya. “origamiku sudah selesai.”
“Bagaimana caranya Sully? Kenapa kau cepat
sekali?”
“Kemarilah. Kuajari oppa” lalu dengan
lincah gadis kecil itu mengajari anak laki-laki yang lebih tua, yang selalu ia
panggil Oppa sejak kecil.
Beberapa saat kemudian, ibu Minho datang
memintanya untuk segera berpamitan.
“Omma, aku masih ingin sekali bermain
dengan Sully. Kenapa harus pulang sekarang?”
“Sayang, kita harus segera berkemas, appa
sudah menunggu kita.. nhe?”
“Sully, Kapan-kapan kita bermain lagi,
yach? Bye…”, Minho dan ommanya berpamitan.
Sully jadi cemberut karena sahabat kecilnya
itu harus pergi, padahal ia masih ingin bermain dengan Minho oppa-nya.
Minho terus berlalu menjauhi rumah besar
yang ditinggali keluarga Sully. Ia tak berhenti menatapnya. Seakan-akan esok
hari tak akan ada lagi hari di mana ia bisa bermain lagi dengan Sully di rumah itu.
***
Pagi itu, Sully sarapan bersama kedua
orangtuanya seperti biasa. Tapi, tidak biasanya ayah dan ibunya sudah
berpakaian rapi selain karena mereka
berpakaian untuk ke tempat kerja.
“Eomma, kita mau ke mana? Kok sudah
menyuruhku buru-buru .” Tanya Sully penasaran usai menyelesaikan sarapannya.
“Kita akan mengantar keluarga Minho ke
bandara, ayah dan ibunya kan sahabat dekat keluarga kita, mereka akan pindah ke
Amerika sayang.”
“Mwoo? Kenapa oppa tak pernah memberitahuku
omma….” Protes Sully tak percaya.
“Sudah Sully, ayo nanti kita terlambat.”
Appa menghentikan protes Sully.
***
Bandara Incheon, 2001
“Bibi… jangan pergi…!!!!”
“Sayang,..” omma Minho mengelus rambut
panjang Sully yang dikepang dua itu dengan lembut.
“Kami juga sayang sekali padamu, kamu sudah
bibi anggap sebagai anak perempuan bibi sendiri. Tapi harus bagaimana? Bibi dan
Minho harus pindah ke California, karena paman pindah kerja ke sana. Kalau ada
waktu, mainlah ke rumah kami, sayang. Pintu rumah kami akan selalu terbuka
untuk kalian.”
Minho kecil mengusap air matanya. “Sully,
ambillah topi ini..” Minho menyodorkan topi hitam yang dipakainya.
“Ini juga untukmu, oppaa..” Sully
memberikan gelang plastic miliknya, dan memasangkannya di pergelangan Minho.
“Berjanjilah, kita akan bertemu lagi,” dua
sahabat kecil itu saling mengkaitkan kelingking kecil mereka.
Beberapa saat kemudian, pesawat itu telah
lepas landas meninggalkan bandara.
***
Bandara Incheon, 2014.
Namja bermata kodok itu sudah sampai ke Korea
dengan lega.
Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan
bagaimana jika ia bertemu Sully nanti. Ia kini sudah mendapat gelar dokter
spesialisnya lebih cepat. Tak sabar , bermaksud untuk segera bertemu Sully,
sahabat kecilnya, sekaligus adik kelasnya dulu waktu SD. Sudah lama ia hilang
kontak dengan Sully saat ia akan menempuh study kedokteran dulu. Waktu itu ia
ingin konsentrasi dengan sekolahnya. Sedang sully terakhir kali mengiriminya
foto berseragam SMU melalui e-mail. Hanya itu kini bekal Minho mencari yeonja
yang cantik itu. Ia tak tahu kini kabarnya, keluarganya, bagaimana wajahnya,
ataupun menjadi apa ia sekarang. Sully bohong, saat itu ia berjanji akan
mengunjungi Minho. Tapi tiba-tiba setelah terakhir kali kontak, ia sudah tiada
kabarnya lagi.
Minho mencari-cari temannya yang sudah
berjanji menjemputnya. Papan bertuliskan Choi Minho itupun akhirnya ketemu.
Laki-laki putih seusianya itu melambai-lambaikan tangan sekaligus
menghampirinya.
“Aigooo… bagaimana kabarmu Dokter Choi…
sudah sangat lama kita tak bertemu. mereka saling berpelukan.
“Kajja, ayo kita pulang. Ibuku sudah
menunggumu, kawan.”
Mobil terus melaju. Kawan Minho itu tak
berhenti bercerita tentang kehidupannya, hingga Minho bosan mendengarnya, tapi
ia ingin tetap menjadi pendengar yang baik.
“Hei, apakah kau ingat dengan Sully, adik
kelas kita waktu SD itu?”
Agak lama laki-laki itu mengingat gadis
yang disebut Minho. “oh, geure.. gadis cengeng yang rambutnya selalu dikepang
dua itu?? bahkan aku sempat satu SMU dengannya. Waah.. dia menjadi angsa yang
sangat dikagumi anak laki-laki di sekolahku. Selain cerdas, dia juga sempat
menjadi model, lho. Tapi, ia lalu lebih memilih konsen sekolahnya. Kasihan dia…”
“Kasihan bagaimana??? Terus bagaimana
kabarnya sekarang?”
“Itulah, sejak lulus SMU, aku sudah tak
pernah lagi mendengar kabarnya. Tapi yang kudengar terakhir kali. Perusahaan
appanya bangkrut karena sang direktur bunuh diri…”
“Mwo???”
Minho melongo tak percaya. ‘mungkinkah itu menjadi penyebab ia juga
putus kontak dan tak jadi mengunjungiku di Amerika?’
Keesokan harinya. Minho yang masih hafal
jalan menuju rumah Sully yang dahulu itu, terkecoh. Penghuninya kini sudah
berganti. Bukan keluarga Sully lagi. Ia menjadi khawatir sekaligus bingung,
bagaimana nasib yeonja yang selalu ada dalam mimpinya selama ini itu? Apakah ia
menjadi gelandangan sekarang? Ah, tidak. Meskipun perusahaan appanya bangkrut,
tapi Omma Sully dulu masih bekerja
sebagai kepala perawat di sebuah rumah sakit.
Minho segera pergi ke rumah sakit tempat
dulu omma Sully bekerja, tapi juga nihil. Kata salah seorang perawat, ia sudah lama pindah. Ke
sebuah rumah sakit kecil di sebuah desa. Ia bekerja sebagai sukarelawan medis
di sana.
Pikiran Minho menjadi makin kacau. Hari ini
ia lelah. Ia juga masih mengurus pekerjaan barunya di sini, dan harus mencari
keberadaan keluarga Sully. Ia akan mencarinya lagi esok hari.
***
Di rumah sakit swasta ternama di Korea
inilah, Minho memulai pekerjaan barunya sebagai
dokter spesialis anak. Siang itu, ia bermaksud berjalan-jalan di sekitar
rumah sakit setelah lelah habis melakukan operasi dan menangani anak kecil yang
baru kecelakaan di UGD.
Suasana mengejutkan kembali lagi. Ambulans
tiba dengan membawa pasien anak kecil. Sesosok gadis yang kelihatannya tomboy
dan bertopi yang mendampingi anak di ambulans itu terus berteriak-teriak.
“tolong, dia perempuan bernama Shin Jung
Ah, usia delapan tahun, pasien gagal nafas. Sepertinya dia terserang tension
pneumotoraks dengan BO. Kami telah melakukan intubasi, cepat. Dia butuh
novalung dan operasi pneomotoraks…”, gadis bertopi itu berbicara cepat.
Dokter Minho dan dokter jaga lainnya
langsung cepat tanggap memindahkan gadis kecil itu ke bangsal dan melakukan
prosedur alur kerja gawat darurat. Gadis
bertopi itu was-was. “apakah kau walinya?” salah seorang dokter jaga bertanya.
“ya, tadinya dia adalah pasien kami.
Tiba-tiba tadi pingsan setelah berusaha kabur dari klinik. Kami berusaha
menanganinya, tapi karena RS kami tak punya novalung, kami membawanya ke
sini..”. gadis itu menceritakan panjang lebar.
‘oohh,, apakah ia seorang dokter? Gadis
sipit yang bergaya berandalan itu sungguh mengagumkan. Gerak-geriknya seperti
sudah terbiasa menangani pasien.’ batin Minho sekaligus kagum ketika
sekilas mendengarnya. Tapi lalu dia sibuk menangani gadis kecil itu.
“oh, siapa namamu? Kami butuh persetujuan
untuk segera melakukan tindakan operasi…”. Dokter jaga mencatat nama gadis itu.
Minho sudah tak menghiraukannya lagi.
Beberapa saat kemudian, operasi dilakukan.
Gadis bertopi itu duduk di kursi tunggu sendirian. Sekilas, dilihatnya jam
tangan di pergelangannya. Sudah satu jam. Tapi operasi itu belum selesai. Ia
kehausan, lalu memasukkan koin di mesin penyedia minuman kaleng. Lalu memungut
minuman kaleng itu. Meneguk sekaligus sampai habis. Benar-benar gadis tomboy.
Dari mukanya, terlihat ia gadis yang tak
pernah memperhatikan perawatan wajah. Dan tingkah lakunya tak menunjukkan
sedikitpun keanggunan. Minho yang melihatnya usai keluar dari ruang operasi itu
hanya geleng-geleng kepala.
Gadis itu tak sengaja menoleh ke arah pintu
operasi. Dilihatnya dokter tampan itu
sudah menatapnya seraya mengerutkan dahi, heran.
“Hei, gadis. Adikmu sudah selesai
dioperasi. Kau sekarang bisa melihatnya di ruang perawatan.”
“Kamsahamnida, dokter. Kamsahamnida. Telah
menyelamatkan Jung Ah-ku.” Ia membungkuk-bungkukkan badannya, lalu ngeloyor
pergi sambil berlari melesat membelah kelengangan koridor rumah sakit.
***
Esok harinya, Minho yang semalaman dibuat
tak bisa tidur oleh bayangan gadis itu, kini melihatnya lagi di rumah sakit. Di
ruang perawatan gadis kecil Jung Ah.
Tak mengerti, hatinya sungguh
berdebar-debar kencang sekali. Ia gugup di depan pintu. Apalagi sekarang gadis
itu menyadari kehadirannya. Menatapnya sekilas, lalu kembali tersenyum pada
adiknya, Jung Ah yang juga berteriak memanggil namja itu. “Dokter, kemarilah.”
Dengan malu ia menyapa mereka berdua.
“annyyeoong Jung Ah.. bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah mendingan?” sapa
Minho seraya bergaya membetulkan aliran infuse.
Gadis itu terus saja menatapnya. “oh, Dokter…
Minho??” ia memberanikan diri bertanya sambil terdengar suaranya yang gemetar.
Minho terkejut bukan main. Kini ia tak bisa melepas pandangannya ke arah lain,
hanya pada gadis itu. Gadis yang sudah membuatnya tak bisa tidur semalaman.
Membuat jiwanya merekah setelah sekian lama perasaan seperti itu terpendam
dalam pusaran waktu. Ya, ia merasakan perasaan itu kembali.
“Oh, ada apa?” ia menjawab dengan agak
gagap.
“Anniyo, dokter. Terima kasih dokter sudah
mengoperasi Jung Ahku. Jeongmal Gomawo…” gadis itu salah tingkah juga.
‘otteokee… kenapa dia tak ingat padaku?
Ataukah dia pura-pura lupa? Ah, sungguh menyebalkan memendam perasaan ini…’ batin gadis itu sungguh kesal dengan perasaannya sendiri.
“Sama-sama, kalau butuh sesuatu, panggil
saja saya. Nhe?saya dokter yang menanganinya.”
Kakak beradik itu menganggukkan kepala
sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih. Minho pun pergi.
***
Di atas ranjang, Minho yang sudah memakai
pijama tidur tetap tak bisa memejamkan matanya. Merutuk dirinya sendiri. Kenapa
tadi siang dia sangat gugup? Padahal gadis itu sudah berusaha memulai
pembicaraan, bukankah setidaknya ia bisa membalasnya juga dengan ramah seperti
yang biasa ia lakukan selama ini terhadap pasien? Aah. Ia masih bertanya-tanya
pada dirinya sendiri. Dan juga, bukankah tujuannya kembali ke Korea adalah
untuk mencari Sully yang selama ini ia rindukan? Kenapa yang ada justru jatuh
hati pada gadis lain?
“Mwo???” ia terkejut oleh pikirannya
sendiri. Ia mulai memejamkan mata. Meraba-raba lagi ingatannya terhadap wajah
gadis itu. Gadis kumal itu. tidak…!!!!
Ia langsung berlari mengambil foto Sully
saat SMU yang ia taruh di laci. Benar. Ia cocokkan dengan bayangan tadi. Ia
segera menyambar HP dan mengirim sms pada salah satu rekannya di RS, bertanya alamat dari rumah sakit mana pasien
Jung Ah-nya dirujuk.
***
Minggu pagi itu minho libur. Ia sudah sampai
di sebuah RS kecil yang tak begitu ramai di sebuah desa di pinggiran kota
Seoul. Ia bertanya sana-sini pada orang yang bersimpangan dengannya. Di mana
ruang dokter cantik gadis kumal itu.
“Oohh,, maaf anak muda. Dokter Sully kalau
sedang tidak sibuk begini ia bekerja sebagai pengantar gallon. Tapi sore nanti
dia juga sudah pulang. “ ucap nenek yang berpakaian sebagai pasien itu.
Minho kaget setengah mati, kaget mendengar
bahwa itu benar Sully seperti dugaannya, sekaligus ia bekerja sebagai pengantar
air gallon di hari libur. Ia masih tak percaya bahwa ia adalah gadis itu.
Ia masih ingat satu hal. “Maaf nenek.
Apakah di sini juga ada perawat senior bernama Soo Young?”
Tiba-tiba, satu suara menyahut dari arah
sampingnya. “oohh, itu saya sendiri. Maaf, anak muda ini siapa nek? Silakan
kembali ke ruanganmu nenek. Kau harus istirahat. Silahkan kau tunggu aku di
ruang perawat sebelah sana. “ wanita paruh baya itu menunjukkan sebuah ruang di
ujung lorong.
Minho segera menuruti perintah wanita yang
ia yakini ibunya Sully itu. Tak lama kemudian, wanita itu datang dengan dua
gelas kopi di tangannya, menyodorkan salah satunya pada Minho, namja tamunya
yang sedang diintip banyak perempuan di luar ruang perawat itu.
Sesaat, Minho membungkukkan badan
mengucapkan terima kasih dengan sopan. Kemudian ia memperkenalkan dirinya
secara langsung. Seketika itu juga ibu Soo young yang sudah belasan tahun tak
bertemu dengannya itu sangat terkejut. Segera ia merangkul putra sahabat
lamanya itu.
“Bagaimana kabar ayah dan ibumu, Minho? Dan
sekarang apa pekerjaanmu?” kini
perbincangan mereka menjadi lebih akrab.
Minho kemudian menceritakan tentang orang
tuanya di Amerika yang juga bekerja di bidang medis. Sedangkan ia memberitahu
bahwa ia sendiri sekarang sudah bekerja sebagai dokter di RS di Korea dan mulai
mencari tempat tinggal sendiri.
“oh, ibu. Ngomong-ngomong. Bagaimana kabar
Sully sekarang? Sejak saya akan masuk kedokteran, saya putus kontak dengan
Sully.” Minho tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya sedari tadi.
Agak lama ibu Sully tak menjawab. Air
matanya menetes satu persatu. Minho segera menyodorkan sapu tangannya.
“Cerita tentang Sully mungkin takkan
terbayangkan olehmu, nak. Saat Sully kelas dua SMU, suamiku.. ditemukan
meninggal di meja kantornya, diduga karena bunuh diri. Ditambah lagi ternyata
perusahaan mengalami kerugian dan menanggung hutang yang sangat banyak,
akhirnya dengan pasrah rumah dan seluruh asset kekayaan keluarga kami disita
demi menanggung hutang dan gaji pegawai. Saya waktu itu sungguh frustasi,
Minho. Apalagi Sully masih sekolah, saya memutuskan untuk kembali ke kampung
halaman saya di sini, sedang Sully mencari rumah kost di kota, belajar keras
dan kerja paruh waktu sebisanya.
Kehidupan yang ia alami begitu keras, nak. Tapi ia tak mengenal kata putus asa.
Katanya, ia ingin menjadi dokter dan menyusulmu di Amerika sesuai janjinya.
Tapi, sampai sekarang, justru ia sampai lupa dengan mimpinya itu, ia lebih
memilih setelah lulus kedokteran bekerja sebagai dokter umum membantu para
dokter senior di sini. Ia memilih menghidupi dirinya sendiri mencari uang
dengan menemani sepupunya sebagai pengantar air setiap kali ia ada waktu
senggang seperti ini…”
Mata minho tak berkedip sama sekali. Ia
menunduk membayangkan garis hidup Sully yang begitu sulit ia sendiri bayangkan.
Yeonja yang ia sadari sangat ia cintai, mengubur mimpinya sendiri untuk bertemu
dengannya.
Minho tak mau terus larut dalam duka. Ia
kemudian menatap Soo Young lekat-lekat.
“Bolehkah aku memanggilmu Omma, bu?”
Soo young menunduk pelan, tersenyum seraya
mengusap air matanya. Minho merangkul wanita paruh baya itu. “Bukankah sejak
kecil dahulu saya sering sekali main dengan Sully di rumahmu? Dan keluarga kita
sangat dekat, bu? Keluargamu sejak dulu banyak sekali membantu kami. Jangan menangis, bu.. anggap saja saya anak ibu… “
***
Hari telah merangkak menuju senja. Truk
gallon itu berhenti di depan rumah. Lalu
turun sosok gadis lincah dan kumal itu lalu melambai-lambaikan tangan menatap
truk gallon pengantarnya yang kemudian berlalu pergi.
Gadis kumal itu terkejut. Di kamarnya,
sesosok namja bermata kodok sudah duduk di tepi ranjangnya.
“Benar-benar. Apa kau baru membantu truk
pengangkut sampah? Badanmu sungguh bau.. baru kali ini aku melihat gadis sekumal
dirimu…”, namja itu menggerutu.
Gadis yang bernama Sully itu masih melongo
tak percaya. Lalu dengan tak sabar menyepak lutut namja bermata kodok itu,
gesit.
“yha! Jangan berani-berani kau, ya? Dokter
Minho? Punya hak apa kau mengata-ngataiku dan masuk kamarku sembarangan? Dasar
sombong. Keluar!!!”
“ommaaa…. Usir pria ini keluar. Tak sopan
sekali.” Ibu yang sedang menyiapkan
makan malam itu hanya tersenyum geli melihat anak gadisnya.
“Kau tak ingat? Dia Choi Minho…. Yang dulu
kau panggil Oppa….” Omma bermaksud
mengingatkannya.
“tak usah diceritakan lagi. Dia sungguh
sombong di RS. Aku sudah bertemu dia waktu mengantar Jung Ah kemarin.” Sully langsung ngeloyor pergi ke kamar mandi.
Kini Ommanya malah melongo, sedangkan minho
hanya tertawa sambil meringis kesakitan karena sepakan maut di dengkulnya tadi.
***
Usai makan malam dengan saling diam-diaman,
kini ibu mengisyaratkan Minho untuk mendekati Sully. Gadis yang kini duduk di
ayunan seraya menatap bintang gemintang yang bertebaran di langit.Minho
menggerakkan ayunan Sully. Meski sedikit terkejut,tapi Sully juga tak mencegah
Minho menghentikannya. Ia mengenang masa kecil itu, bersama Minho yang waktu
kecil juga sering mengayun-ayunkannya seperti ini.
“gomawooo….
Sudah datang kemari. “Sully tersenyum pelan.
“Apa kau tak rindu padaku?” kini Minho
beralih di depannya, dan mendorong ayunannya lebih kencang.
Air mata sully tak terbendung lagi.
Rambutnya perlahan tertiup angin malam. Wush… wush… minho menghentikan ayunan.
Kecantikan itu kembali lagi. Lalu memeluk Sully, ia menumpahkan kerinduannya.
“oppaaa….. jeongmal bogoshippo…” sully
berbisik di telinga minho.
****
Sejak saat itu, minho kerap mengajak Sully
bertemu. Walaupun Jung Ah sudah tidak dirawat di RS itupun, terkadang Sully
mengantar gallon ke RS itu dan bertemu Minho.
Hingga suatu siang, Sully sungguh kecewa.
Namja yang ia cari tak ia temukan. Nomor hape-nya juga tak aktif. Malahan ia
mendengar dari gossip perawat yang
lewat, bahwa dokter tampan idaman mereka itu sedang cuti mempersiapkan
pernikahannya. Aaarrrgghhh,,, ia sungguh putus asa. Padahal ia sudah berdandan
ala gadis muda lainnya, sangat feminine. Tak seperti hari-hari biasanya. Ia
ingin hari itu mengagetkan Minho. Tapi sayang ia sungguh merasa kecewa.
Akhirnya dengan hati dongkol ia mengemudikan balik truk galonnya.
Sendirian, uraian air mata tak mampu
membendung rasa kecewanya. Dua botol alcohol itu tak membuatnya mempan mabuk.
Ia sungguh frustasi. Lalu melanjutkan memilih pulang kembali ke rumah.
***
Di sebuah taman, gadis kumal bertopi itu
menunggu dengan gelisah sekaligus kesal.
“Apa dia hanya mau memberiku harapan palsu lagi?” ia kembali mengecek SMS
dari Minho.
From: Minho-Oppa
“Mari kita bertemu di taman biasanya jam 9 pagi
besok. “
“Aaahh, sebaiknya aku pulang saja daripada
aku kecewa seperti seminggu yang lalu. “ ia bermaksud berbalik. Tapi namja yang
membuat impiannya hancur itu malah sudah muncul di depannya.
“Ayo ikut aku.” Minho menggeret lengan
Sully.
“Tapi bagaimana dengan mobil galonku?”.
Sully menatap mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
“don’t worry. Chagiy. Biar aku yang
menanganinya.” Sepupunya sudah muncul dengan merebut kunci mobil di tangan
Sully. “pergilah… urus dia dengan baik, Oppa.” Sepupunya genit, sambil
mendorong mereka pergi. Sully hanya bingung sendiri. Sepertinya,Minho sudah
bersekongkol dengan sepupunya. ‘Dasar, membuatku penasaran saja.’ Batin Sully.
Sepenjang perjalanan, rasa penasaran itu
hadir dalam hati Sully. Mau dibawa ke mana ia? Mungkinkah minho ingin
memberinya undangan pernikahannya? Atau jangan-jangan malah ia ingin
mengenalkan calon istrinya? Bagaimana kalau semua itu terjadi? Bagaimana nanti
perasaannya?
Ia hanya memendam berbagai pertanyaan itu
dalam hatinya sendiri. Sambil menatap pemandangan jalanan di luar kaca
mobilnya. Mereka saling diam, Minho dari tadi juga sangat cuek.
“Kenapa Oppa tak memberitahu kabar itu? Apa
aku bagimu tidak penting?”, Sully mencoba memecah keheningan.
“Buat apa kuberi tahu? Bukankah tanpa kuberitahu
kau sendiri juga malah sudah tahu?”, Minho cuek sambil konsen menyetir. Membuat
Sully serasa ingin meloncat begitu saja dari dalam mobil.
Tiba di sebuah butik, Minho mempersilakan
pegawai membawa Sully ke belakang.
“Yha! lakukan seperti apa yang aku perintah
tadi. Buat itik jelek ini menjadi angsa yang cantik. Nhe?”
Sekali lagi Sully bingung bukan kepalang.
Ternyata orang-orang disitu segera memake-over dirinya habis-habisan. Dari
ujung kaki sampai ujung rambut.
Dengan gaun berwarna coklat muda dan wedges
senada ia melangkah terpincang-pincang. Rambut panjangnya sudah dikeriting
gantung. Dia sudah selesai dimake-over.
Bebek itu telah menjelma menjadi angsa yang cantik. Tapi, tiba-tiba sekitar
menjadi gelap. Seseorang menyekap matanya. Tangannya seperti dituntun seorang
namja.
“opp…pa?” ia seperti mengenali tangan itu
sebagai tangan Minho.
Minho hanya diam sambil membimbing Sully ke
mobil. Dan melarangnya membuka penutup matanya.
“Aku akan mengenalkanmu pada calon istriku….”
“Mwo? Kenapa aku harus berpakaian seperti
ini? Ini terlalu berlebihan.”
“Istriku seorang mantan model. Jadi ia
sangat cantik dan semampai, tidak sepertimu yang berantakan, Sully..”
Glek!!! Sully menelan ludahnya. ‘Aahh,,
bukankah dulu waktu SMA aku juga pernah berdandan seperti ini? Sebagai seorang
model? Tak apalah. Ia sadari selama ini tak pernah sempat berurusan dengan
kecantikan . Anggap saja kali ini ia menghormati pertemuannya dengan calon
istri Oppa ‘ batin Sully sambil menenangkan gejolak di hatinya.
Sedang di sampingnya, Minho hanya tertawa
geli.
Mobil berhenti, Minho menuntunnya. Ia lalu
mempersilahkan Sully duduk.
Sesaat kemudian, Sully mendengar suara
langkah anggun sepatu hak tinggi seorang perempuan.
“apakah calon istrimu sudah datang, Oppa?”
“ya, sekarang, bukalah penutup matamu. Dia ada di depanmu..”
Sully tak sabar membuka penutup matanya.
Agak buram, lalu makin lama makin jelas.
Oopppsss. Sesosok perempuan muda sudah
berdiri. Ia berhak tinggi, tapi kenapa? Berpakaian pelayan restoran hotel bintang
lima?
“oppa… dia …yeonja-chingumu? calon
istrimu?” Sully membulatkan kedua mata
sipitnya.
“anny… lihatlah cermin itu.. dia calon
istriku.”
Sully segera menatap cermin yang diletakkan
pelayan tadi di meja depannya.
“mana oppa? Tak ada calon istrimu di
sini…”. Sully hanya mendapati dirinya seorang di cermin itu. Lalu menoleh ke
belakang. Tak ada siapa-siapa.
“bodoh!” Minho menjitak kepala Sully.
“bagaimana mungkin seseorang yang bodoh sepertimu menjadi dokter?”
Minho segera berjongkok meraih tangan kiri
sully, meletakkan cincin permata berkilauan itu di jari manisnya. Lalu ia
mencium punggung tangannya.
“Maukah kau menikah denganku, Chagi? Aku
sudah menunggu saat-saat ini ….”
Jantungnya sungguh berdegup sangat kencang.
Ia salah tingkah. Sejurus kemudian, dua perempuan yang tak lain Omma dan
sepupunya datang.
“Terimalah, Sully. Omma sudah
menyetujuinya. Sebenarnya, Minho sudah melamarmu pada Omma sejak bertemu ia
pertama kali itu.”
Perasaan Sully kini membuncah. Tak ada
kata-kata yang kuasa ia ungkapkan, hanya
anggukan halus.
“Gomawo, Chagi….saranghaeo…” Minho merangkulnya
erat.
***
Langganan:
Postingan (Atom)
